BERNAMA.ID: Profil
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 November 2024

DR. Mawardi Muhammad  Saleh, Lc., MA

DR. Mawardi Muhammad Saleh, Lc., MA


Beliau adalah Sosok ilmuwan Muslim yang bisa dikatakan manusia langka.

Lahir  24 Juni 1969, di Bangkinang, Kab. Kampar, Riau.

Dengan tubuh tak terlalu tinggi, hanya 158 cm, putra Bangkinang, ini mampu meraih prestasi tertinggi di Universitas Islam Madinah.

Tahun 2004, beliau menamatkan Program Doktornya di bidang Fiqih dan Ushul Fiqih dengan predikat Summa Cum Laude (Al-Mumtaz ma’a Martabati Asy-Syarafil Ula). 

Nilai seluruh pelajarannya adalah ”A Plus”.

Disertasi doktor yang ditulisnya pun bukan biasa-biasa saja. Tebalnya, 1.100 halaman. Judulnya, Ziyadat was-Tidrakaat al-Imam al-Nawawi, ‘alal Imam ar-Rafi’iy fi Babi al-Zakat.

Seorang penguji mengaku keheranan, karena baru saat itu, dia menemukan ada disertasi setebal 1.000 halaman lebih di Universitas Madinah, tanpa ada satu kesalahan pun dalam Nahwu dan Sharaf.

Mawardi adalah orang Indonesia kelima yang meraih doktor di Universitas Madinah. Empat sebelumnya adalah DR. Salim Segaf al-Jufri, DR. Ahsin Sakho, DR. Abd Muhith, dan DR. Hidayat Nurwahid.

Putra Bangkinang ini mulai memasuki jenjang S-1 di Universitas Madinah tahun 1990. Di tingkat ini, setiap semester juga dia lalui dengan predikat Summa Cum Laude.

Tahun 2000, ia menyelesaikan pendidikan S2-nya, dengan tesis berjudul Tahqiq al-Matlabal ‘Aliy fi Syarhi Wasith al-Imam al-Ghazali.

Tesis setebal 900 halaman ini merupakan studi tentang filologi terhadap buku al-Matlabul Aliy, sebuah kitab fiqih terbesar dalam mazhab Syafii, karya Ibnu Rif’ah.

Padahal, Mawardi hanya mengkaji bab wudhu saja, yang naskah aslinya saja sekitar 600 halaman.

Manuskrip ini belum dibukukan. Jika nantinya, dibukukan, dipekrirakan akan menjadi sekitar 100 jilid.

Ibnu Rif’ah memulai kitabnya dari bab buyu’. Kenapa? Karena bab mu’amalah rumit dan membutuhkan energi. ”Mumpung semangatnya sedang tinggi beliau mulai dari yang susah. Baru balik ke bab awal, thaharah, sampai kitab zakat, haji, Ibnu Rifah meninggal.

Kitabnya dilanjutkan oleh muridnya yang bernama al-Qamuliy,” papar Mawardi yang kini diamanahi sebagai Imam Besar Masjid Raya Bangkinang.

Tentang Imam al-Ghazali, Mawardi menyimpulkan, bahwa dialah yang mematangkan fiqih Syafii.

”Beliau adalah ahli fiqih. Metodologi hukum dimatangkan dengan kitab al-Mustashfa. Kitab al-Ghazali ini menjadi rujukan,” papar Mawardi. 

Al-Ghazali menulis kitab-kitab fiqihnya berdasarkan tingkatan pendidikan seseorang. 

Kitab al-Basith diringkas menjadi al-Wasith; diringkas lagi menjadi al-Wajiz. Diringkas lagi menjadi al-Khulashah.

Kitab al-Wajiz dikaji oleh Imam Rofi’i, yang menyatakan, bahwa al-Wajiz adalah yang paling matang dalam karya fiqih al-Ghazali. 

Oleh Rofi’i, al-Wajiz diringkas menjadi al-Muharrar, yang kemudian diringkas oleh Imam Nawawi menjadi Minhajut Thalibin.

Kajian manuskrip memerlukan ketekunan dan penguasaan bahasa yang tinggi. Mawardi termasuk yang menyukai tantangan semacam ini. 

Penguasaan DR. Mawardi dalam soal tata bahasa Arab sudah tampak menonjol sejak dia belajar di Pesantren Darun Nahdhah Thawalib, Bangkinang. Ketika itu, dia sudah hafal Kitab nahwu Alfiyah Ibn Malik, yang berisikan 1.000 lebih bait syair di bidang nahwu.

Bakat Mawardi dalam penguasaan tata bahasa Arab diwarisi oleh ayahnya, Muhammad Shaleh, seorang guru pesantren di tempat Mawardi belajar.

Sebenarnya, ketika duduk di bangku sekolah dasar, Mawardi sangat menyukai pelajaran matematika. Dia juara dalam pelajaran matematika. ”Kalau guru tidak ada, saya yang gantikan,” kata Mawardi dikutip berazamcom dari Islamia-Republika.

Semula, dia terpikir untuk melanjutkan ke SMP. Tapi, akhirnya, sebelum meninggal dunia, ayahnya sempat berpesan kepada seseorang, bahwa Mawardi harus melanjutkan pendidikan ke pesantren. Pesan ayahnya itu pun diikutinya. 

Meskipun ditinggal ayahnya sejak kelas VI SD, Mawardi sangat mengidolakan sosok sang ayah. Sang ayah aktif di Majlis Tarjih Muhammadiyah, tetapi ia sangat toleran dengan perbedaan pendapat. Ayahnya membaca doa qunut subuh, ketika menjadi Imam di masjid yang biasa membaca qunut.

Ayahnya juga menanamkan semangat kerja keras.

"Kelas tiga SD saya sudah diajak ayah mencari kayu bakar di hutan dan membuka lahan,” kenang Mawardi yang kini memimpin Majelis Ulama Kabupaten Kampar.

Karena itulah, disamping belajar sungguh-sungguh di Madinah, Mawardi juga menyempatkan diri bekerja di sejumlah instansi.

Ia sempat bekerja sebagai penerjemah di Mahkamah Syariah Madinah dan di Rumah Sakit. Ia juga salah satu staf di lembaga Penelitian Peninggalan Madinah.

Mawardi mengaku bersyukur sempat menyelesaikan jenjang pendidikannya sampai S3 di Universitas Madinah. Selepas menyelesaikan S2, ia sempat melamar ke sejumlah universitas. Salah satu yang menerimanya adalah Islamic Studies McGill University.

"Alhamdulillah, saya diterima di Madinah,” ujarnya.

Maka, ia putuskan untuk melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Madinah.

"Saya pikir, apa ada tempat lain yang lebih baik dari Madinah,” kata Mawardi yang kini juga aktif sebagai dosen di Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Riau.

Menurutnya, tradisi ilmu dan budaya ilmiah di sana sangat tinggi. Kurikulum di Madinah, seluruhnya diberikan dalam bentuk komparatif.

Sejak di bangku S1, mahasiswa harus mempelajari Tafsir Ibn Katsir, Fiqih Bidayatul Ijtihad, Hadits Ahkam Subulus Salam. Aqidah diberikan juga secara komparatif.

”Jadi tidak menggiring pada fanatisme kelompok tertentu. Kita diajar menjadi manusia yang berargumen,” kata Mawardi.

Kecintaan dan prestasi Mawardi kepada ilmu pengetahuan keislaman telah menarik simpati sejumlah dosen-dosennya. Mawardi menyebut seorang dosen bernama Prof. Dr. Naif al-Amri yang sangat peduli kepada mahasiswa. Ia seorang ahli fiqih.

”Kalau saya perlu buku, dia belikan dan diantar ke rumah saya,” paparnya mengenang. Ia pun kadangkala dibelikan tiket pesawat saat melakukan penelitian ke Mesir.

”Seminggu saya tidak menelepon, dia yang cari,” katanya lagi.

Kini, di wilayah Riau, Mawardi termasuk sedikit ilmuwan Muslim yang memiliki jadwal aktivitas super sibuk. Ia bertekad mengembangkan tradisi keilmuan yang sehat di wilayahnya.

Di masjid Agung Kampar yang dipimpinnya, dia mengembangkan kajian-kajian kitab secara rutin dalam berbagai bidang keilmuan.

Dan sekarang, Putra Terbaik ASLI Kampar dan Riau ini menjadi Calon Wakil Gubernur Riau bersama Bapak Syamsuar No. Urut 3. (TIM)

Sabtu, 15 Juni 2024

Profil Ahmad Tarmizi, Ketua DPW PKS Termuda se - Indonesia

Profil Ahmad Tarmizi, Ketua DPW PKS Termuda se - Indonesia



Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Riau telah merampungkan suksesi kepengurusannnya di tingkat wilayah pada akhir Desember 2020 yang lalu. Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Riau yang sebelumnya dijabat H. Hendry Munief, MBA kini digantikan oleh Ahmad Tarmizi, Lc, MA.

Pada Pemilu serentak tanggal 14 Februari 2024, Ahmad Tarmizi ditugaskan oleh PKS sebagai salah seorang Calon Anggota Legislatif (Caleg). Dia diamanahkan sebagai Caleg untuk DPRD Provinsi dari Daerah Pemilihan Riau 1 (Kota Pekanbaru), dengan nomor urut 2. Dalam Pemilu tersebut, Ahmad Tarmizi terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi Riau periode 2024 - 2029 dari Dapil Riau 1 dengan jumlah suara pribadi 18.317 suara.

Ahmad Tarmizi lahir di Pekanbaru pada 6 April 1982, anak dari pasangan Mohammad Roem (Alm) dan Asnida, keduanya berasal dari Muara Rumbai, Rokan Hulu, Provinsi Riau. Di usia yang masih tergolong milenial (38 tahun), menjadikannya dinobatkan sebagai yang termuda diantara 34 Ketua DPW PKS se-Indonesia.

Sejak kecil ia tumbuh dilingkungan yang Islami. Selain di rumah, orang tuanya memilih mendidiknya melalui sekolah yang memiliki basis agama. Saat Sekolah Dasar (SD), dirinya tercatat sebagai siswa di Madrasah Ibtida’iyah (MI) Al-Fattah Pekanbaru.

Setelah tamat dari MI pada tahun 1994, Ahmad Tarmizi merantau menuntut ilmu ke pulau seberang, tepatnya di Pesantren Wali Songo, Ngabar -Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, Pesantren yang telah menghasilkan banyak lulusan ternama seperti Wakil Ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nur Wahid dan Duta Besar Republik Indonesia di Republik Arab Mesir, Abdurrahman Mohammad Fachir.

Di Pesantren ini Ahmad Tarmizi muda menyelesaikan jenjang Sekolah Menengah Pertama (MTs, red) dan Sekolah Menengah Atas (Aliyah, red) sejak tahun 1991 hingga tahun 2000. Di sini pula ia mulai mengasah jiwa organisasinya, Ahmad Tarmizi aktif sebagai pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII) Ngabar-Ponorogo, dan tercatat pernah menjabat Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar (PMP) PII.

Setelah tamat dari Pesantren Wali Songo, ia memperoleh beasiswa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di Universitas tertua kedua di dunia Al-Azhar Kairo Mesir yang dibentuk pada tahun 972 M, setelah Universitas University of Al-Karaouine di Maroko (sejak tahun 859 Masehi).

Bersama 90 orang putra putri terbaik indonesia yang mendapatkan beasiswa langsung dari Universitas Al-Azhar, Ahmad Tarmizi terbang ke “Negeri Piramida”. Selama empat tahun menyelesaikan pendidikan S1 nya di Fakultas Ushuludin Jurusan Hadits, ia tetap aktif mengikuti organisasi bersama Pelajar Islam Indonesia (PII) Perwakilan Mesir.

Selama aktif di PII Mesir, Ahmad Tarmizi yang merupakan junior Ustadz Abdul Somad ini (beda dua tahun masuk Al-Azhar) pernah diamanahkan menjadi Ketua Bidang Internal PII Mesir dari tahun 2002 hingga 2004. Ia juga aktif sebagai pengurus di Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir (PPMI) dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Jendral.

Selain itu, Ahmad Tarmizi juga memiliki pekerjaan sebagai Direktur Lembaga Bimbingan Belajar Asy-Syathibi Center di Kairo, Mesir pada tahun 2006 hingga 2009. Sehingga, berbekal pengalaman organisasi dan pekerjaanya tersebut, ia memiliki relasi yang cukup luas dengan para tokoh, mahasiswa dan masyarakat yang ada di Mesir maupun Indonesia.

Seusai lulus dari Al-Azhar Mesir, Ahmad Tarmizi kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai guru di sekolah dan mubaligh. Selama di Indonesia inilah dirinya banyak berinteraksi dengan kader-kader PKS. Kemudian, tidak lama setelah itu, untuk mempertajam kazanah keilmuannya, dengan tekad yang bulat, ia kembali terbang ke Mesir melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana (S2) di kampus yang sama.

Walau berada di Mesir, ternyata ia tetap bisa bertemu dan berinteraksi dengan kader PKS yang ada di sana, bahkan aktif menjadi pengurus partai PKS perwakilan Mesir. Puncaknya ketika dirinya diamanahkan menjadi Ketua Pusat Informasi dan Pelayanan (PIP) PKS Mesir periode 2010-2015.

Selama menjabat menjadi ketua PIP PKS Mesir, banyak peran aktif dan kegiatan yang ia lakukan untuk membantu Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Mesir, mulai dari sinergi dengan Kedutaan Republik Indonesia (KBRI), wadah sharing informasi, edukasi pendidikan, hingga layanan bantuan.

Ahmad Tarmizi menceritakan, salah satu contoh pelayanan yang dilakukannya bersama pengurus PIP PKS Mesir yaitu ketika terjadi revolusi Mesir pada tahun 2011 silam, ia dan pengurus memilih menjalankan fungsi pelayanan (khidmatul ummah) dengan membantu semaksimal mungkin proses evakuasi WNI yang ada di Mesir.

Hal tersebut mereka lakukan sesuai dengan intruksi pimpinan PKS yang ada di Indonesia sebagai mitra koalisi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di mana saat itu SBY telah menggulirkan program evakuasi WNI, program ini dikoordinir oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo dan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Mesir, karena khawatir atas keselamatan WNI.

“Pelayanan yang kami berikan berupa memberikan informasi tentang evakuasi WNI, mengangkat barang (koper) di bandara, antar jemput WNI dari rumah – kantor konsuler KBRI hingga ke bandara, pengurusan visa di imigrasi Mesir dan mendata WNI yang membutuhkan bantuan,” ungkapnya mengisahkan.

Dikatakannya, selama menempuh kuliah dan aktif berorganisasi, banyak pelajaran dan hikmah yang didapatnya, terutama dalam menyikapi berbagai persoalan. Di Mesir juga ia menggenapkan separuh agamanya dengan menikahi seorang gadis yang juga kuliah di kampus Al-Azhar. Dari pernikahannya dengan Salmah Lestari, Lc tersebut, saat ini mereka dikaruniai 2 anak.

Akhirnya pada tahun 2015 ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 nya. Kemudian, setelah kembali ke Indonesia, Ahmad Tarmizi yang telah menyandang gelar Lc. MA tersebut memilih mengabdikan diri di jalur pendidikan sebagai dosen di salah satu Universitas di Riau. Ahmad Tarmizi juga aktif sebagai mubaligh memberikan ceramah agama di majelis-majelis taklim dan masjid.

Hingga, pada Musyawarah Wilayah (Muswil) PKS Riau yang ke-V dirinya masuk menjadi salah satu kandidat dari 9 calon pimpinan DPTW PKS Riau, pada akhirnya nama Ahmad Tarmizi terpilih menjadi Ketua DPW PKS Riau masa bakti 2020 – 2025.

Jumat, 23 September 2022

Ahmiyul Rauf, Ahli Perminyakan yang Jadi Ketua Partai

Ahmiyul Rauf, Ahli Perminyakan yang Jadi Ketua Partai


Ahmiyul Rauf adalah Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Pekanbaru.
Nama Ahmiyul Rauf termasuk pendatang baru di dunia politik di Kota Bertuah ini, karena sebelumnya Ahmiyul Rauf besar di dunia profesional di bidang perminyakan.

Ahmiyul Rauf memiliki latar belakang sebagai ahli sumber daya alam dan geologi. Selama 24 tahun Ahmiyul Rauf bergabung bersama perusahaan Amerika yang bergerak dibidang perminyakan yakni Caltex yang kini berganti nama menjadi Chevron.

Lepas dari Chevron Ahmiyul Rauf sempat bergabung dengan perusahaan minyak milik daerah yakni Bumi Siak Pusako (BSP). Kemudian berkarier di Petronas, Malaysia.
Perjalanan hidup Ahmiyul Rauf memang cukup menarik untuk disimak dan bisa menjadi inspirasi bagi generasi milenial masa kini.

Ahmiyul Rauf dulunya hanyalah sebatas anak kampung yang lahir disebuah desa di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Hal ini disampaikan oleh Ahmiyul Rauf dalam tayangan YouTube Tribun Pekanbaru Official pada 7 Juni 2021.

"Saya sendiri sebenarnya merasa sangat beruntung bisa masuk dalam dunia perminyakan karena saya dilahirkan di desa di Kuansing.
Sampai saya bisa jadi orang kota karena saya sekolah di SMA 1 disana juga saya mengenal bisa kuliah di Gajah Mada pada tahun 1975 ambil jurusan tekhnik Geologi", papar Ahmiyul Rauf saat mengenang masa mudanya dulu.

Menurut Ahmiyul Rauf karirnya di dunia perminyakan sebagai ahli geologi dimulai saat dirinya yang dilamar oleh Caltex. "Saya dilamar caltex ahli Geologi mereka mencari ke UGM dan ITB kala itu," katanya.

Ahmiyul Rauf menuturkan, selama 24 tahun bekerja di Caltex, yang ia lakukan sesuai dengan disiplin ilmunya. Seloroh Rauf mengatakan kerjanya mirip dengan meramal. Misalnya tentang target kedalaman minyak bisa puluhan meter ratusan meter bahkan berkilo - kilo. Menganalisa dan kemampuan pengeboran minyak. Selama di Caltex sampai Afrika cari minyak.
Tetap bersemangat berkarir di perusahaan raksasa tidak lain karena memang kegigihanya yang ulet dan bekerja keras, terlebih ia merupakan anak kampung yang memiliki impian bisa bekerja dengan sukses.

"Saya kalau dilihat latar belakang adalah orang kampung, orang kampung itu pekerja keras, jadi saya pikir semangat pekerja keras.
Kalau kita bekerja di corporation asing maka akan masuk budaya kerja disitu, dari dulu sudah menjadi incaran, bekerja di Caltex namun pekerjaan di sana cukup berat dan penuh tantangan," katanya.

Baginya yang tidak kalah penting selain semangat kerja keras juga harus disiplin tinggi. Perlu juga beradaptasi dengan cepat, mengingat di perusahaan asing tersebut terdapat berbagai macam suku bangsa.
Ingin Banyak Berperan
Sukses di dunia profesional ternyata tidaklah cukup bagi Ahmiyul Rauf, karena ia ingin bisa memberikan manfaat lebih banyak. Terutama untuk Provinsi Riau. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu alasan dirinya memberanikan diri untuk bergabung dalam dunia politik beberapa waktu lalu.

"Ada kerisauan saya melihat kondisi saat ini, saya ingin menyuarakan dalam bentuk kebijakan jalan satu-satunya dengan masuk ke dunia politik," ujar Ahmiyul Rauf. Baginya jika tetap berkarir di profesional tidak akan bisa mengubah arah kebijakan ke arah yang lebih baik.

"Ketika ditawarkan tentu ada yang menjadi pikiran bagi saya untuk masuk partai, ketika ditawarkan, walaupun masalahnya banyak di dunia politik. Dengan politik bisa diperbaiki.Artinya kemampuan saya melihat masa depan optimistis negeri ini kaya. Ada ruang membawa perubahan . Ada ruang untuk membuat perubahan yang berdampak pada orang banyak," paparnya.

Opini terhadap dunia politik tidak terlepas dari penilaian miring yang dicap oleh publik. Satu diantaranya politisi kerap mengumbar janji-janji manis, tak bisa dipercaya dan korupsi. Menanggapi isu-isu tersebut menurut Ahmiyul Rauf , politik sebenarnya tergantung bagaimana seseorang yang menjalankanya.
"Jadi kita harus bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat dan tentunya seperti kita memberikan pelayanan saat menjadi pekerja di perusahaan. Kalau katanya politik itu jahat dan kotor saya rasa bisa kita ubah dengan yang lebih baik," katanya.

Kedepan sebagai pimpinan Partai di Pekanbaru Ahmiyul Rauf tentu memiliki beban kerja dan tantangan yang berbeda. Mulai dari mempersiapakan kader terbaik untuk Pemilihan Walikota Pekanbaru dan juga langkah-langkah pemenangan nantinya dalam Pemilihan Presiden.

"Jabatan di PKS bukan karena kita mengajukan diri, salah satu tugas saya memenangkan Pemilu 2024 di Pekanbaru dan akan bekerja dengan teman dan punya strategi. Walaupun saya baru di politik, intinya di politik salah satu kunci keberhasilan adalah komunikasi sama dengan di perusahaan," katanya.

Salah satu setrategi yang harus dilakukan menurunya harus berkawan dan tidak mencari lawan.
"Kalau kita bekerjasama tentu bicara kepentingan, kita ingin bekerjasama dalam kepentingan bersama melayani Budaya melayani ini ada di perusahaan. Melayani rakyat dan NKRI", pungkasnya.

Kamis, 10 Februari 2022

Helmi Darlis, Sosok Wakil Walikota Pariaman Sederhana

Helmi Darlis, Sosok Wakil Walikota Pariaman Sederhana

Oleh : Labai Korok Piaman
Pejabat negara setiap Sabtu, Ahad atau hari libur nasional selalu memakai kedaraan dinas plat merah dengan mengganti plat hitam BA XXXX BS kemana-mana, baik jalan-jalan ke pasar, mall, acara partai atau kegiatan pribadi lainnya.

Namun perilaku itu tidak terjadi terhadap H. Helmi Darlis, Wakil Walikota Pariaman periode 2008-2013. Setiap Sabtu dan Minggu disaat menjemput Penulis ke pesantren selalu memakai mobil pribadi kijang kapsul, dan langsung beliau menyopiri.

Kebiasaan itu selalu dilakukan disetiap kegiatan pribadi dan kegiatan partai. Ada undangan acara kader PKS, beliau, Pak Haji Helmi panggilan akrab selalu memakai mobil pribadi, dan terkadang pernah numpang ke mobil sahabat beliau ketika mobil kijangnya itu rusak.

Begitu sosok sederhana Pak Wawa Kota Pariaman ini, dan selalu mampu memposisikan diri secara beretika terhadap fasilitas negara yang dipakai. Beliau santai saja tidak memakai mobil dinas tersebut kemana-mana, walaupun secara budaya umum boleh dipakai kemana saja.

Sosok Wakil Walikota Pariaman, H. Helmi Darlis sudah meninggalkan warga Kota Pariaman dan warga PKS, Kamis, 10/2/2021, Innalillahi wa innailaihi rajiun, Kota Pariaman kembali kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, dengan berpulangnya ke Rahmatullah, H. Helmi Darlis, SH.,Sp.N, tokoh asal Desa Koto Marapak, yang merupakan mantan Wakil Walikota Pariaman Periode 2008 - 2013.

Selama hidupnya, Penulis bersaksi beliau adalah orang baik, semoga beliau husnul khatimah dan semua amal ibadahnya selama ini, diterima disisi Allah SWT dan mendapatkan pahala yang berlimpah, dan kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan dan kesabaran.

Sesuai arahan Genius, Walikota Pariaman sekarang, Walikota dan jajaran ASN melepaskan jenazah kepandam pakuburan dari Kantor Balaikota, pelepasan jenazah memakai upacara kenegaraan. Suasana haru iringi pelepasan jenazah Helmi Darlis, mantan Wakil Wali Kota Pariaman Periode 2008 - 2013 tersebut terjadi.

Selamat jalan putra terbaik Piaman, H. Helmi Darlis, Penulis beharap nilai-nilai kesederhanaan yang ditampilkan sewaktu beliau menjabat (pejabat negara) bisa ditiru oleh setiap Kita yang sedang memimpin, ataupun yang akan memimpin di daerah ini.

Kesederhanaan tersebut tidak secuil itu yang Penulis uraikan diawal tulisan dimana beliau memakai mobil pribadi dan juga menyopiri, tapi kesederhaan memanfaatkan fasilitas milik rakyat selalu dihindarinya. 

Diakhir masa jabatan beliau kembali jadi warga biasa, jadi kader PKS biasa, terakhir Penulis bertemu beliau dirumahnya di Padang saat melayani pembeli di kedai buku atau kedai foto copynya. Disana Penulis bertemu dan bercerita negeri kedepan.

Selamat jalan Ustadz H. Helmi Darlis, semua nasehat, pituah, dan tauladan disaat jadi pemimpin bisa Kami tiru, kesederhanaan, tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Aamiin[*].

Kamis, 28 Oktober 2021

Mengenal Muhammad Iqbal, Tokoh Muda Sumbar Asal Tanah Datar

Mengenal Muhammad Iqbal, Tokoh Muda Sumbar Asal Tanah Datar


Hari ini merupakan hari Sumpah Pemuda Indonesia ke 93 tahun, sejak tahun 1928 yang lalu. Perjuangan kaum muda dalam pembangunan negeri ini sangat besar baik saat sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan, pasca kemerdekaan sampai saat ini.

Pada tahun 1928, sebelum kemerdekaan pemudalah yang mendeklarasikan Sumpah Pemuda yaitu Pertama: Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia, Kedua: Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia, Ketiga:
Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. 

Selanjutnya pada masa Kemerdekaan kaum mudalah yang mendorong untuk memproklamasikan kemerdekaan kepada Soekarno - Hatta. Pasca Kemerdekaan sampai saat ini pemuda terus mempunyai peran dalam pembangunan bangsa ini.

Pada saat ini banyak tokoh muda yang menjadi pemimpin baik kepala daerah maupun kepala organisasi lain yang memberikan kontribusi untuk pembangunan Indonesia. Salah satunya adalah Muhammad Iqbal. Iqbal yang dikenal sebagai tokoh muda Sumbar yang berasal dari Tanah datar ini merupakan anak muda yang aktif di berbagai organisasi maupun aktifitas sosial lainnya.

Iqbal adalah aktivis yang hari ini aktif di DPD KNPI Sumbar sebagai Wakil Bendahara dan juga di BPD HIPMI Sumbar. Keberhasilan Iqbal sebagai aktivis organisasi, mengantarkannya ke dunia politik. Iqbal di amanahkan di partai politik yaitu Sebagai Sekretaris DPD Partai Gelora Indonesia Tanah Datar.

Iqbal, putra asli Tanah Datar, Kecamatan Rambatan, Nagari Balimbiang. Anak bungsu dari pasangan Agustar (alm) dan Jasmawati ini sudah aktif sejak kecil mulai dari SD memimpin upacara dan pramuka, SMP diamanahkan sebagai Ketua OSIS, hingga  Mahasiswa menjadi Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa di Universitas Andalas . Iqbal mempunyai cita cita bermanfaat bagi orang banyak.(*)

Minggu, 27 Juni 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA



8. TURUNNYA WAHYU PERTAMA

Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc, M. Ed (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)
Nabi Muhammad Saw. menyendiri (‘Uzlah) berkhalwat dan bertahannuts (beribadah) di gua Hira sekitar 3 tahun menjelang usia 40 tahun. Beliau berdiam dan bertafakkur selama sebulan lebih kurang, kemudian kembali ke rumah dan mencukupkan bekalnya, lalu Beliau balik lagi ke gua Hira. Begitulah berulang-ulang Beliau lakukan. Penyendirian ini merupakan tadbir (rekayasa) Allah untuk mengkondisikan dirinya menerima beban berat memikul risalah Nabi yang terakhir.

Enam bulan pada tahannuts tahun ketiga, Beliau selalu bermimpi dengan mimpi yang benar (ru’ya shadiqah). Yaitu mimpi yang serupa fajar shubuh yang menyingsing. Di tahun itu pula, ketika usia Rasulullah sudah memasuki 40 tahun, tampaklah tanda-tanda kenabian lainnya seperti sebuah batu di Makkah yang mengucap salam kepada beliau. Usia 40 tahun adalah usia kematangan manusia, dan kebanyakan Nabi atau Rasul diangkat oleh Allah pada usia tersebut.

Pada Ramadhan tahun ketiga Beliau melakukan ‘uzlah di gua Hira, datanglah kehendak Allah Swt. untuk menurunkan rahmatNya bagi semesta alam dan bagi manusia sampai akhir zaman. Allah Swt. turunkan wahyuNya yang pertama kepada Rasulullah Saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril. Wahyu itu turun pada hari Senin, tanggal 21 Ramadhan, kepada Nabi Saw. Umur Beliau Saw. ketika itu adalah 40 tahun, 6 bulan, 12 hari menurut hitungan Qamariyah dan diperkirakan berdasarkan hitungan Syamsiyah adalah 39 tahun, 3 bulan, 20 hari.

Di dalam kitab shahih Bukhari, terdapat hadits dalam bab “Awal Turunnya Wahyu kepada Rasulullah Saw. Dimana Ummul mukminin ‘Aisyah ra. menceritakan kisah turunnya Malaikat Jibril ini. Ketika berada di gua Hira, malaikat datang dan berkata, “Bacalah!” Nabi Muhammad Saw. berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Malaikat tersebut kemudian memeluk Rasulullah Saw. hingga terasa sesak, dan kemudian ia melepaskan Beliau.

Kemudian setelah itu, dia memintanya membaca kembali, Rasulullah Saw. berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Kemudian dia kembali memeluk Nabi Saw. untuk kedua kalinya hingga beliau merasa sesak. Kemudian malaikat Jibril melepaskannya dan berkata, “Bacalah!” Rasulullah Saw. berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Kemudian dia memeluk Nabi Saw. untuk yang ketiga kalinya, lalu melepaskannya. Kemudian malaikat tadi mengatakan:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Dengan turunnya wahyu pertama ini maka Nabi Muhammad Saw. telah resmi menjadi Nabi. Namun Beliau sendiri belum menyadari hal itu sepenuhnya. Sebab Beliau belum pernah tahu hal ini sebelumnya, dan Beliau adalah seorang yang ummi alias tidak bisa menulis dan membaca. Tentunya Beliau tidak pernah membaca tentang kisah nabi-nabi terdahulu ataupun tentang wahyu. Semua peristiwa ini betul-betul baru baginya.

Selesai menerima wahyu pertama ini, Rasulullah Saw. segera kembali pulang ke rumahnya, dalam keadaan ketakutan. Beliau masuk ke rumahnya dan menemui Khadijah binti Khuwailid ra. Rasulullah Saw. berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku.” Khadijah menyelimutinya hingga rasa takutnya hilang.

Rasulullah Saw. menceritakan apa yang baru saja terjadi dan menimpa dirinya di gua Hira. Beliau berkata kepada Khadijah setelah memberitahukan masalahnya, “Saya mengkhawatirkan diri saya.” Khadijah berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu sama sekali. Sebab engkau adalah orang yang suka menyambung hubungan silaturahim, membantu orang lain, memberi orang yang tidak punya, memuliakan tamu, membantu orang-orang yang tertimpa musibah.”

Tidak cukup dengan menenangkan suaminya saja, malah Khadijah kemudian membawanya untuk menemui anak paman Khadijah yang bernama Waraqah bin Naufal bin Asad Abdul Uzza. Waraqah ini adalah seorang penganut agama Nashrani pada zaman jahiliyah. Ia pandai menulis dengan bahasa Ibrani dan juga menulis Injil dengan bahasa Ibrani. Sehingga ia memiliki wawasan yang lumayan tentang kitab suci dan tentang kenabian.

Pada waktu itu Waraqah sudah berusia lanjut dan bahkan matanya sudah buta. Khadijah berkata kepada Waraqah, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah perkataan dari anak saudaramu.” Waraqah bertanya, “Wahai anak saudaraku, apa yang kamu telah lihat?” Rasulullah Saw. menceritakan semua yang telah beliau alami di gua Hira. Setelah mendengar penuturan Beliau, Waraqah berkata, “Ini adalah Namus (Jibril) yang Allah turunkan kepada Musa. Alangkah indahnya bila saya masih muda (kuat). Andai saja saya masih hidup saat kaummu mengusirmu dari kampung halamanmu.”

Rasulullah Saw. merasa heran dan bertanya, “Apakah mereka (kaumku) akan mengusir saya dari kampung saya?” Waraqah menjawab, “Benar, tidak ada orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa ini, melainkan orang tersebut akan dimusuhi. Saya berjanji seandainya saya mendapatkan harimu itu, maka saya akan menolongmu dengan pertolongan yang maksimal.” Namun tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan ia tidak sempat mendapatkan kelanjutan masa kenabian Rasulullah Saw. ketika berhadapan dengan paman-pamannya dan kaum jahiliyah kota Makkah.

Kemudian selama beberapa hari setelah itu terputuslah wahyu. Pada hari-hari terputusnya wahyu Rasulullah Saw. hanya diam, termenung dan bahkan tampak gelisah. Imam Bukhari dalam kitab At Ta’bir pada Shahih-nya meriwayatkan, Rasulullah Saw. beberapa kali sempat lari ke bukit dan ingin menjatuhkan diri ke jurang. Namun ketika sampai ke puncak bukit, Malaikat Jibril menampakkan dirinya seraya mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah.”
Setelah itu Rasulullah kembali tenang dan pulang ke rumah. Selang beberapa hari wahyu berikutnya belum juga turun. Sehingga Beliau kembali gelisah dan pergi ke bukit. Lalu Malaikat Jibril menampakkan dirinya dan mengatakan perkataan yang sama. Beliau pun kembali tenang dan kini telah siap menerima wahyu berikutnya. Suasana ini merupakan cara Allah dalam mengkondisikan Rasulullah Saw. Sehingga Beliau menjadi sangat rindu akan turunnya wahyu Kembali.

Barulah kemudian Turun wahyu yang kedua, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya. Rasulullah bersabda: “Tatkala aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang berasal dari langit. Aku mendongakkan pandangan ke langit. Ternyata di sana ada malaikat yang mendatangiku di gua Hira, sedang duduk di sebuah kursi, menggantung di antara langit dan bumi. Aku mendekatinya hingga tiba-tiba aku terjerembab ke atas tanah. Kemudian aku menemui keluargaku dan kukatakan, ‘Selimuti aku, selimuti aku.”

Kemudian Allah Swt. menurunkan Surat Al Muddatsir ayat ayat 1-7: 
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)
Artinya: “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (QS. Al Muddatsir: 1-7)

Dengan turunnya surat Al Muddatsir ini secara resmi Nabi Muhammad Saw. telah menjadi seorang Rasul. Sebab di dalam ayatnya, Beliau sudah diperintahkan Allah untuk memberi peringatan dan menyampaikan wahyu kepada kaumnya. Walaupun pada tahap awal ini dakwahnya masih berlangsung rahasia atau diam-diam. Surat Al Muddatsir ini mengandung perintah mengagungkan Allah semata (tauhid), membersihkan pakaian dan badan dari kotoran, dan perintah membersihkan diri dari segala dosa. Sekaligus juga ada isyarat bagi Nabi Saw. akan beban berat dakwahnya ke depan, sehingga Ia harus bersabar menghadapinya.

Bersambung…

Minggu, 06 Juni 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA



7. KEHIDUPAN BERKELUARGA SAMPAI MENJELANG KENABIAN
Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)

Khadijah ra. merupakan istri pertama Muhammad Saw. Sampai wafatnya Khadijah, Rasulullah Saw. tidak ada menikahi satupun wanita lain. Dan Khadijahlah satu-satunya istri Beliau yang memberikan keturunan. Sedangkan dari istri-istri yang lain pasca wafatnya Khadijah, tidak ada yang memberikan keturunan. Adapun Ibrahim adalah anak Beliau dari Maria al Qibthiyah, budak yang dihadiahkan Raja Mesir kepada Rasulullah Saw.

Anak-anak Khadijah bersama Rasulullah ada 6 orang, secara berurutan adalah: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah dan Abdullah. Semua anak laki-laki Rasulullah wafat dalam usia kanak-kanak. Adapun anak-anak yang perempuan, semuanya sampai ke usia dewasa dan berjumpa dengan Islam dan semuanya masuk Islam. Namun semuanya wafat lebih dahulu dari pada ayah mereka, kecuali Fathimah. Ia wafat lebih kurang sekitar 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Sebelum menikah dengan Rasulullah Saw., Khadijah pernah menikah dengan dua orang tokoh Quraisy. Pertama ‘Utaiq bin Abid bin Makhzum. Kemudian ia meninggal dunia. Lalu Khadijah menikah lagi dengan Abu Halah bin Zurarah Al Usaidi. Kemudian Abu Halah juga meninggal dunia. Setlah itu Khadijah menolak semua lamaran lelaki Quraisy sampai ia menikah dengan Muhammad Saw.

Setelah menikah dengan Khadijah, Rasulullah Saw. memulai kehidupan barunya menjadi kepala rumah tangga. Memimpin keluarganya dan anak-anaknya yang hadir dari tahun demi tahun. Di samping itu, Beliau masih melanjutkan pekerjaannya berdagang. Di sisi lain, Beliau ikut serta dalam agenda-agenda kebaikan dan sosial masyarakat yang tidak berbau syirik dan dosa. Bila terkait dengan syirik seperti penyembahan berhala atau hari raya kaum musyrikin, atau terkait dengan perbuatan dosa seperti minum tuak, memakan sembelihan untuk berhala, maka Beliau menjauh dan tidak menyukainya.

Ibnu Katsir menceritakan dalam riwayatnya bahwa Rasulullah Saw. telah berkata: “Aku tidak pernah dahulu berniat mengikuti sebagian dari jahiliyah, kecuali dua kali. Kedua kalinya selalu Allah halangi (gagalkan) antara aku dan perbuatan tersebut. Kemudian aku tidak pernah lagi berencana untuk itu sampai Allah muliakan aku menjadi Rasul. Suatu malam aku sampaikan kepada teman sesama penggembala kambing denganku di pinggir kota Makkah, “Tolong lihatkan kambing-kambingku ini, aku akan masuk ke kota Makkah dan menikmati suasana malamnya dengan para pemuda.” Lelaki penggembala itu menjawab, “Silakan.” Maka berjalanlah aku menuju Makkah. Begitu aku memasuki gerbang kota Makkah, aku dengarkan suara nyanyian. Aku bertanya kepada orang sekitar, ‘Apakah itu?” mereka menjawab, “Itu pestanya si fulan.” Lalu aku duduk untuk mendengarnya. Namun Allah datangkan kepadaku rasa mengantuk yang sangat berat hingga aku tertidur. Dan aku baru terbangun ketika matahari pagi menerpa wajahku. Lalu aku kembali menemui temanku dan aku ceritakan apa yang terjadi semalam. Malam berikutnya kembali aku ingin melakukan hal yang sama. Begitu aku memasuki gerbang kota Makkah, terjadi lagi apa yang terjadi sebelumnya. Maka kemudian aku tidak pernah lagi berencana melakukan keburukan.” (Riwayat ini dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi, di dhaifkan oleh Ibnu Katsir).

Begitulah Allah mengkondisikan calon Nabi dan Rasul yang mulia. Kehidupannya penuh dengan kebaikan dan dirinya dihiasi dengan akhlak yang mulia. Ia terkenal sebagai seorang yang berakhlak mulia, jujur, sopan tutur katanya, menepati janji, memegang amanah, menjaga kehormatannya dan selalu membantu orang lain yang dalam kesusahan dan kebutuhan. Di dalam hadits shahih, Ummul Mukminin Khadijah ra. pernah memujinya:

إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَصْدُقُ الحَدِيْثَ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ، وَتَكْسِبُ المَعْدُوْمَ، وَتُقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الحَقِّ. (متفق عليه).

Artinya: “Sesungguhnya engkau orang yang selalu bersilaturrahim, menanggung beban orang lain, memberi orang yang tidak berpunya, memuliakan tamu dan senantiasa membantu sumber-sumber kebenaran.” (HR Bukhari).

Salah satu peristiwa penting ketika Beliau sudah berusia 35 tahun adalah peristiwa renovasi Ka’bah. Waktu itu bangunan Ka’bah sudah semakin keropos. Dan barang-barang berharga penduduk kota Makkah yang disimpan di dalamnya, sudah banyak yang dicuri oleh tangan-tangan jahil. Bencana alam seperti banjir dan badai juga sempat merusak beberapa bagian dari bangunan Ka’bah tersebut. Sehingga memang sudah sangat layak untuk dilakukan renovasi.

Awalnya kaum Quraisy agak ragu merehap bangunan Ka’bah. Sebab mereka takut celaka bila meruntuhkannya, karena bangunan ini warisan yang sakral semenjak zaman Nabi Ibrahim dan Ismail. Namun kemudian Al Walid bin Mughirah memberanikan diri untuk mulai meruntuhkannya, dan ia tidak mengalami apa-apa. Sehingga yang lain juga ikut serta melakukannya. Mereka merobohkan semua dinding lama sampai ke pondasinya. Kemudian mereka membangun ulang Ka’bah dengan ukuran panjang dan lebar sama-sama 10 meter, dan tingginya mencapai 15 meter.

Setelah bangunan Ka’bah sempurna mereka kerjakan, timbullah perselisihan diantara berbagai suku ini, tentang siapa yang berhak meletakkan kembali hajar aswad ke tempatnya semua. Perselisihan pendapat ini berlangsung sampai 5 hari 4 malam. Masing-masing suku merasa berhak untuk mendapat kehormatan ini. Hampir saja mereka saling menumpahkan darah karena pertikaian ini. Untunglah Abu Umayyah Al Makhzumi waktu itu mengusulkan adanya penengah (hakim) di antara mereka untuk memutuskan perkara tersebut.

Mereka semua sepakat untuk mengangkat hakim dalam perkara ini. Yaitu siapa yang pertama memasuki area Masjidil Haram waktu itu, dialah yang akan dijadikan sebagai penengah. Ternyata Allah takdirkan orang yang pertama masuk pintu Masjidil Haram waktu itu adalah Muhammad Saw. Mereka sangat senang dengan kejadian ini. Sebab Muhammad sudah terkenal di kalangan mereka sebagai seorang yang amanah lagi jujur. Sehingga mereka menggelarinya dengan gelar Ash Shaadiq Al Amin (jujur lagi terpercaya). Sepakatlah mereka untu tunduk dan patuh kepada keputusan Muhammad Saw. dalam perkara itu.

Muhammad Saw. memutuskan pada waktu itu untuk membuka sorbannya dan meletakkannya di atas tanah. Lalu Beliau meletakkan hajar aswad di tengah sorban tersebut. Lalu masing-masing kepala suku diminta untuk memegang ujung-ujung sorban dan mengangkat hajar aswad menuju sudut peletakannya. Sesampai di sudut Ka’bah, Rasulullah mengangkat hajar aswad dan meletakkannya di sudut tersebut. Semua pimpinan kabilah Quraisy merasa senang dan puas atas keputusan yang sangat bijak ini. Sehingga terhindarlah penduduk Makkah dari pertumpahan darah yang nyaris terjadi gara-gara peletakan kembali hajar aswad.

Sekitar 5 tahun terakhir menjelang usianya 40 tahun, Muhammad Saw. semakin menjaga dirinya dari kondisi masyarakat kota Makkah yang tenggelam dalam kesyirikan dan dosa. Dengan pemikirannya yang tajam, renungannya yang kuat, serta penjagaan khusus dari Allah, Beliau selalu terhindar dari potensi jatuh kepada dosa, maksiat dan bahkan perbuatan syirik (menyembah berhala).

Pada tahun-tahun terakhir mendekati usia kenabian, Allah mendatangkan kesukaan kepada Rasulullah Saw. untuk menyendiri jauh dari hiruk-pikuk kota Makkah. Ia pergi ke sebuah gua yang berjarak dari kota Makkah sekitar 2 atau 3 mil. Gua tersebut terkenal dengan nama gua Hira, di atas bukit Nur (Jabal Nur). Gua tersebut berukuran kecil, hanya cukup untuk duduk satu atau dua orang saja. Dan mulut gua tersebut agak mengarah ke Ka’bah yang jauh di sana di kota Makkah.

Beliau membawa bekal makanan dan minuman secukupnya. Beliau berdiam di sana beberapa hari atau kadang sebulan Ramadhan. Beliau beribadah dan bertafakkur menyaksikan ciptaan Allah Yang Maha Agung. Hatinya tidak tenang dengan apa yang tengah diperbuat oleh kaumnya yang menyembah berhala dan berbuat syirik. Namun Ia tidak mengetahui mana jalan kebenaran dan mana yang harus diikuti. Ketika bekalnya sudah habis, Beliau kembali ke rumah Khadijah untuk mengambil bekal selanjutnya, lalu kembali lagi ke gua Hira.

Bersambung…

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done