BERNAMA.ID: Profil
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 November 2024

DR. Mawardi Muhammad  Saleh, Lc., MA

DR. Mawardi Muhammad Saleh, Lc., MA


Beliau adalah Sosok ilmuwan Muslim yang bisa dikatakan manusia langka.

Lahir  24 Juni 1969, di Bangkinang, Kab. Kampar, Riau.

Dengan tubuh tak terlalu tinggi, hanya 158 cm, putra Bangkinang, ini mampu meraih prestasi tertinggi di Universitas Islam Madinah.

Tahun 2004, beliau menamatkan Program Doktornya di bidang Fiqih dan Ushul Fiqih dengan predikat Summa Cum Laude (Al-Mumtaz ma’a Martabati Asy-Syarafil Ula). 

Nilai seluruh pelajarannya adalah ”A Plus”.

Disertasi doktor yang ditulisnya pun bukan biasa-biasa saja. Tebalnya, 1.100 halaman. Judulnya, Ziyadat was-Tidrakaat al-Imam al-Nawawi, ‘alal Imam ar-Rafi’iy fi Babi al-Zakat.

Seorang penguji mengaku keheranan, karena baru saat itu, dia menemukan ada disertasi setebal 1.000 halaman lebih di Universitas Madinah, tanpa ada satu kesalahan pun dalam Nahwu dan Sharaf.

Mawardi adalah orang Indonesia kelima yang meraih doktor di Universitas Madinah. Empat sebelumnya adalah DR. Salim Segaf al-Jufri, DR. Ahsin Sakho, DR. Abd Muhith, dan DR. Hidayat Nurwahid.

Putra Bangkinang ini mulai memasuki jenjang S-1 di Universitas Madinah tahun 1990. Di tingkat ini, setiap semester juga dia lalui dengan predikat Summa Cum Laude.

Tahun 2000, ia menyelesaikan pendidikan S2-nya, dengan tesis berjudul Tahqiq al-Matlabal ‘Aliy fi Syarhi Wasith al-Imam al-Ghazali.

Tesis setebal 900 halaman ini merupakan studi tentang filologi terhadap buku al-Matlabul Aliy, sebuah kitab fiqih terbesar dalam mazhab Syafii, karya Ibnu Rif’ah.

Padahal, Mawardi hanya mengkaji bab wudhu saja, yang naskah aslinya saja sekitar 600 halaman.

Manuskrip ini belum dibukukan. Jika nantinya, dibukukan, dipekrirakan akan menjadi sekitar 100 jilid.

Ibnu Rif’ah memulai kitabnya dari bab buyu’. Kenapa? Karena bab mu’amalah rumit dan membutuhkan energi. ”Mumpung semangatnya sedang tinggi beliau mulai dari yang susah. Baru balik ke bab awal, thaharah, sampai kitab zakat, haji, Ibnu Rifah meninggal.

Kitabnya dilanjutkan oleh muridnya yang bernama al-Qamuliy,” papar Mawardi yang kini diamanahi sebagai Imam Besar Masjid Raya Bangkinang.

Tentang Imam al-Ghazali, Mawardi menyimpulkan, bahwa dialah yang mematangkan fiqih Syafii.

”Beliau adalah ahli fiqih. Metodologi hukum dimatangkan dengan kitab al-Mustashfa. Kitab al-Ghazali ini menjadi rujukan,” papar Mawardi. 

Al-Ghazali menulis kitab-kitab fiqihnya berdasarkan tingkatan pendidikan seseorang. 

Kitab al-Basith diringkas menjadi al-Wasith; diringkas lagi menjadi al-Wajiz. Diringkas lagi menjadi al-Khulashah.

Kitab al-Wajiz dikaji oleh Imam Rofi’i, yang menyatakan, bahwa al-Wajiz adalah yang paling matang dalam karya fiqih al-Ghazali. 

Oleh Rofi’i, al-Wajiz diringkas menjadi al-Muharrar, yang kemudian diringkas oleh Imam Nawawi menjadi Minhajut Thalibin.

Kajian manuskrip memerlukan ketekunan dan penguasaan bahasa yang tinggi. Mawardi termasuk yang menyukai tantangan semacam ini. 

Penguasaan DR. Mawardi dalam soal tata bahasa Arab sudah tampak menonjol sejak dia belajar di Pesantren Darun Nahdhah Thawalib, Bangkinang. Ketika itu, dia sudah hafal Kitab nahwu Alfiyah Ibn Malik, yang berisikan 1.000 lebih bait syair di bidang nahwu.

Bakat Mawardi dalam penguasaan tata bahasa Arab diwarisi oleh ayahnya, Muhammad Shaleh, seorang guru pesantren di tempat Mawardi belajar.

Sebenarnya, ketika duduk di bangku sekolah dasar, Mawardi sangat menyukai pelajaran matematika. Dia juara dalam pelajaran matematika. ”Kalau guru tidak ada, saya yang gantikan,” kata Mawardi dikutip berazamcom dari Islamia-Republika.

Semula, dia terpikir untuk melanjutkan ke SMP. Tapi, akhirnya, sebelum meninggal dunia, ayahnya sempat berpesan kepada seseorang, bahwa Mawardi harus melanjutkan pendidikan ke pesantren. Pesan ayahnya itu pun diikutinya. 

Meskipun ditinggal ayahnya sejak kelas VI SD, Mawardi sangat mengidolakan sosok sang ayah. Sang ayah aktif di Majlis Tarjih Muhammadiyah, tetapi ia sangat toleran dengan perbedaan pendapat. Ayahnya membaca doa qunut subuh, ketika menjadi Imam di masjid yang biasa membaca qunut.

Ayahnya juga menanamkan semangat kerja keras.

"Kelas tiga SD saya sudah diajak ayah mencari kayu bakar di hutan dan membuka lahan,” kenang Mawardi yang kini memimpin Majelis Ulama Kabupaten Kampar.

Karena itulah, disamping belajar sungguh-sungguh di Madinah, Mawardi juga menyempatkan diri bekerja di sejumlah instansi.

Ia sempat bekerja sebagai penerjemah di Mahkamah Syariah Madinah dan di Rumah Sakit. Ia juga salah satu staf di lembaga Penelitian Peninggalan Madinah.

Mawardi mengaku bersyukur sempat menyelesaikan jenjang pendidikannya sampai S3 di Universitas Madinah. Selepas menyelesaikan S2, ia sempat melamar ke sejumlah universitas. Salah satu yang menerimanya adalah Islamic Studies McGill University.

"Alhamdulillah, saya diterima di Madinah,” ujarnya.

Maka, ia putuskan untuk melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Madinah.

"Saya pikir, apa ada tempat lain yang lebih baik dari Madinah,” kata Mawardi yang kini juga aktif sebagai dosen di Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Riau.

Menurutnya, tradisi ilmu dan budaya ilmiah di sana sangat tinggi. Kurikulum di Madinah, seluruhnya diberikan dalam bentuk komparatif.

Sejak di bangku S1, mahasiswa harus mempelajari Tafsir Ibn Katsir, Fiqih Bidayatul Ijtihad, Hadits Ahkam Subulus Salam. Aqidah diberikan juga secara komparatif.

”Jadi tidak menggiring pada fanatisme kelompok tertentu. Kita diajar menjadi manusia yang berargumen,” kata Mawardi.

Kecintaan dan prestasi Mawardi kepada ilmu pengetahuan keislaman telah menarik simpati sejumlah dosen-dosennya. Mawardi menyebut seorang dosen bernama Prof. Dr. Naif al-Amri yang sangat peduli kepada mahasiswa. Ia seorang ahli fiqih.

”Kalau saya perlu buku, dia belikan dan diantar ke rumah saya,” paparnya mengenang. Ia pun kadangkala dibelikan tiket pesawat saat melakukan penelitian ke Mesir.

”Seminggu saya tidak menelepon, dia yang cari,” katanya lagi.

Kini, di wilayah Riau, Mawardi termasuk sedikit ilmuwan Muslim yang memiliki jadwal aktivitas super sibuk. Ia bertekad mengembangkan tradisi keilmuan yang sehat di wilayahnya.

Di masjid Agung Kampar yang dipimpinnya, dia mengembangkan kajian-kajian kitab secara rutin dalam berbagai bidang keilmuan.

Dan sekarang, Putra Terbaik ASLI Kampar dan Riau ini menjadi Calon Wakil Gubernur Riau bersama Bapak Syamsuar No. Urut 3. (TIM)

Sabtu, 15 Juni 2024

Profil Ahmad Tarmizi, Ketua DPW PKS Termuda se - Indonesia

Profil Ahmad Tarmizi, Ketua DPW PKS Termuda se - Indonesia



Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Riau telah merampungkan suksesi kepengurusannnya di tingkat wilayah pada akhir Desember 2020 yang lalu. Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Riau yang sebelumnya dijabat H. Hendry Munief, MBA kini digantikan oleh Ahmad Tarmizi, Lc, MA.

Pada Pemilu serentak tanggal 14 Februari 2024, Ahmad Tarmizi ditugaskan oleh PKS sebagai salah seorang Calon Anggota Legislatif (Caleg). Dia diamanahkan sebagai Caleg untuk DPRD Provinsi dari Daerah Pemilihan Riau 1 (Kota Pekanbaru), dengan nomor urut 2. Dalam Pemilu tersebut, Ahmad Tarmizi terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi Riau periode 2024 - 2029 dari Dapil Riau 1 dengan jumlah suara pribadi 18.317 suara.

Ahmad Tarmizi lahir di Pekanbaru pada 6 April 1982, anak dari pasangan Mohammad Roem (Alm) dan Asnida, keduanya berasal dari Muara Rumbai, Rokan Hulu, Provinsi Riau. Di usia yang masih tergolong milenial (38 tahun), menjadikannya dinobatkan sebagai yang termuda diantara 34 Ketua DPW PKS se-Indonesia.

Sejak kecil ia tumbuh dilingkungan yang Islami. Selain di rumah, orang tuanya memilih mendidiknya melalui sekolah yang memiliki basis agama. Saat Sekolah Dasar (SD), dirinya tercatat sebagai siswa di Madrasah Ibtida’iyah (MI) Al-Fattah Pekanbaru.

Setelah tamat dari MI pada tahun 1994, Ahmad Tarmizi merantau menuntut ilmu ke pulau seberang, tepatnya di Pesantren Wali Songo, Ngabar -Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, Pesantren yang telah menghasilkan banyak lulusan ternama seperti Wakil Ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nur Wahid dan Duta Besar Republik Indonesia di Republik Arab Mesir, Abdurrahman Mohammad Fachir.

Di Pesantren ini Ahmad Tarmizi muda menyelesaikan jenjang Sekolah Menengah Pertama (MTs, red) dan Sekolah Menengah Atas (Aliyah, red) sejak tahun 1991 hingga tahun 2000. Di sini pula ia mulai mengasah jiwa organisasinya, Ahmad Tarmizi aktif sebagai pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII) Ngabar-Ponorogo, dan tercatat pernah menjabat Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar (PMP) PII.

Setelah tamat dari Pesantren Wali Songo, ia memperoleh beasiswa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di Universitas tertua kedua di dunia Al-Azhar Kairo Mesir yang dibentuk pada tahun 972 M, setelah Universitas University of Al-Karaouine di Maroko (sejak tahun 859 Masehi).

Bersama 90 orang putra putri terbaik indonesia yang mendapatkan beasiswa langsung dari Universitas Al-Azhar, Ahmad Tarmizi terbang ke “Negeri Piramida”. Selama empat tahun menyelesaikan pendidikan S1 nya di Fakultas Ushuludin Jurusan Hadits, ia tetap aktif mengikuti organisasi bersama Pelajar Islam Indonesia (PII) Perwakilan Mesir.

Selama aktif di PII Mesir, Ahmad Tarmizi yang merupakan junior Ustadz Abdul Somad ini (beda dua tahun masuk Al-Azhar) pernah diamanahkan menjadi Ketua Bidang Internal PII Mesir dari tahun 2002 hingga 2004. Ia juga aktif sebagai pengurus di Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir (PPMI) dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Jendral.

Selain itu, Ahmad Tarmizi juga memiliki pekerjaan sebagai Direktur Lembaga Bimbingan Belajar Asy-Syathibi Center di Kairo, Mesir pada tahun 2006 hingga 2009. Sehingga, berbekal pengalaman organisasi dan pekerjaanya tersebut, ia memiliki relasi yang cukup luas dengan para tokoh, mahasiswa dan masyarakat yang ada di Mesir maupun Indonesia.

Seusai lulus dari Al-Azhar Mesir, Ahmad Tarmizi kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri sebagai guru di sekolah dan mubaligh. Selama di Indonesia inilah dirinya banyak berinteraksi dengan kader-kader PKS. Kemudian, tidak lama setelah itu, untuk mempertajam kazanah keilmuannya, dengan tekad yang bulat, ia kembali terbang ke Mesir melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana (S2) di kampus yang sama.

Walau berada di Mesir, ternyata ia tetap bisa bertemu dan berinteraksi dengan kader PKS yang ada di sana, bahkan aktif menjadi pengurus partai PKS perwakilan Mesir. Puncaknya ketika dirinya diamanahkan menjadi Ketua Pusat Informasi dan Pelayanan (PIP) PKS Mesir periode 2010-2015.

Selama menjabat menjadi ketua PIP PKS Mesir, banyak peran aktif dan kegiatan yang ia lakukan untuk membantu Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Mesir, mulai dari sinergi dengan Kedutaan Republik Indonesia (KBRI), wadah sharing informasi, edukasi pendidikan, hingga layanan bantuan.

Ahmad Tarmizi menceritakan, salah satu contoh pelayanan yang dilakukannya bersama pengurus PIP PKS Mesir yaitu ketika terjadi revolusi Mesir pada tahun 2011 silam, ia dan pengurus memilih menjalankan fungsi pelayanan (khidmatul ummah) dengan membantu semaksimal mungkin proses evakuasi WNI yang ada di Mesir.

Hal tersebut mereka lakukan sesuai dengan intruksi pimpinan PKS yang ada di Indonesia sebagai mitra koalisi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di mana saat itu SBY telah menggulirkan program evakuasi WNI, program ini dikoordinir oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo dan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Mesir, karena khawatir atas keselamatan WNI.

“Pelayanan yang kami berikan berupa memberikan informasi tentang evakuasi WNI, mengangkat barang (koper) di bandara, antar jemput WNI dari rumah – kantor konsuler KBRI hingga ke bandara, pengurusan visa di imigrasi Mesir dan mendata WNI yang membutuhkan bantuan,” ungkapnya mengisahkan.

Dikatakannya, selama menempuh kuliah dan aktif berorganisasi, banyak pelajaran dan hikmah yang didapatnya, terutama dalam menyikapi berbagai persoalan. Di Mesir juga ia menggenapkan separuh agamanya dengan menikahi seorang gadis yang juga kuliah di kampus Al-Azhar. Dari pernikahannya dengan Salmah Lestari, Lc tersebut, saat ini mereka dikaruniai 2 anak.

Akhirnya pada tahun 2015 ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 nya. Kemudian, setelah kembali ke Indonesia, Ahmad Tarmizi yang telah menyandang gelar Lc. MA tersebut memilih mengabdikan diri di jalur pendidikan sebagai dosen di salah satu Universitas di Riau. Ahmad Tarmizi juga aktif sebagai mubaligh memberikan ceramah agama di majelis-majelis taklim dan masjid.

Hingga, pada Musyawarah Wilayah (Muswil) PKS Riau yang ke-V dirinya masuk menjadi salah satu kandidat dari 9 calon pimpinan DPTW PKS Riau, pada akhirnya nama Ahmad Tarmizi terpilih menjadi Ketua DPW PKS Riau masa bakti 2020 – 2025.

Jumat, 23 September 2022

Ahmiyul Rauf, Ahli Perminyakan yang Jadi Ketua Partai

Ahmiyul Rauf, Ahli Perminyakan yang Jadi Ketua Partai


Ahmiyul Rauf adalah Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Pekanbaru.
Nama Ahmiyul Rauf termasuk pendatang baru di dunia politik di Kota Bertuah ini, karena sebelumnya Ahmiyul Rauf besar di dunia profesional di bidang perminyakan.

Ahmiyul Rauf memiliki latar belakang sebagai ahli sumber daya alam dan geologi. Selama 24 tahun Ahmiyul Rauf bergabung bersama perusahaan Amerika yang bergerak dibidang perminyakan yakni Caltex yang kini berganti nama menjadi Chevron.

Lepas dari Chevron Ahmiyul Rauf sempat bergabung dengan perusahaan minyak milik daerah yakni Bumi Siak Pusako (BSP). Kemudian berkarier di Petronas, Malaysia.
Perjalanan hidup Ahmiyul Rauf memang cukup menarik untuk disimak dan bisa menjadi inspirasi bagi generasi milenial masa kini.

Ahmiyul Rauf dulunya hanyalah sebatas anak kampung yang lahir disebuah desa di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Hal ini disampaikan oleh Ahmiyul Rauf dalam tayangan YouTube Tribun Pekanbaru Official pada 7 Juni 2021.

"Saya sendiri sebenarnya merasa sangat beruntung bisa masuk dalam dunia perminyakan karena saya dilahirkan di desa di Kuansing.
Sampai saya bisa jadi orang kota karena saya sekolah di SMA 1 disana juga saya mengenal bisa kuliah di Gajah Mada pada tahun 1975 ambil jurusan tekhnik Geologi", papar Ahmiyul Rauf saat mengenang masa mudanya dulu.

Menurut Ahmiyul Rauf karirnya di dunia perminyakan sebagai ahli geologi dimulai saat dirinya yang dilamar oleh Caltex. "Saya dilamar caltex ahli Geologi mereka mencari ke UGM dan ITB kala itu," katanya.

Ahmiyul Rauf menuturkan, selama 24 tahun bekerja di Caltex, yang ia lakukan sesuai dengan disiplin ilmunya. Seloroh Rauf mengatakan kerjanya mirip dengan meramal. Misalnya tentang target kedalaman minyak bisa puluhan meter ratusan meter bahkan berkilo - kilo. Menganalisa dan kemampuan pengeboran minyak. Selama di Caltex sampai Afrika cari minyak.
Tetap bersemangat berkarir di perusahaan raksasa tidak lain karena memang kegigihanya yang ulet dan bekerja keras, terlebih ia merupakan anak kampung yang memiliki impian bisa bekerja dengan sukses.

"Saya kalau dilihat latar belakang adalah orang kampung, orang kampung itu pekerja keras, jadi saya pikir semangat pekerja keras.
Kalau kita bekerja di corporation asing maka akan masuk budaya kerja disitu, dari dulu sudah menjadi incaran, bekerja di Caltex namun pekerjaan di sana cukup berat dan penuh tantangan," katanya.

Baginya yang tidak kalah penting selain semangat kerja keras juga harus disiplin tinggi. Perlu juga beradaptasi dengan cepat, mengingat di perusahaan asing tersebut terdapat berbagai macam suku bangsa.
Ingin Banyak Berperan
Sukses di dunia profesional ternyata tidaklah cukup bagi Ahmiyul Rauf, karena ia ingin bisa memberikan manfaat lebih banyak. Terutama untuk Provinsi Riau. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu alasan dirinya memberanikan diri untuk bergabung dalam dunia politik beberapa waktu lalu.

"Ada kerisauan saya melihat kondisi saat ini, saya ingin menyuarakan dalam bentuk kebijakan jalan satu-satunya dengan masuk ke dunia politik," ujar Ahmiyul Rauf. Baginya jika tetap berkarir di profesional tidak akan bisa mengubah arah kebijakan ke arah yang lebih baik.

"Ketika ditawarkan tentu ada yang menjadi pikiran bagi saya untuk masuk partai, ketika ditawarkan, walaupun masalahnya banyak di dunia politik. Dengan politik bisa diperbaiki.Artinya kemampuan saya melihat masa depan optimistis negeri ini kaya. Ada ruang membawa perubahan . Ada ruang untuk membuat perubahan yang berdampak pada orang banyak," paparnya.

Opini terhadap dunia politik tidak terlepas dari penilaian miring yang dicap oleh publik. Satu diantaranya politisi kerap mengumbar janji-janji manis, tak bisa dipercaya dan korupsi. Menanggapi isu-isu tersebut menurut Ahmiyul Rauf , politik sebenarnya tergantung bagaimana seseorang yang menjalankanya.
"Jadi kita harus bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat dan tentunya seperti kita memberikan pelayanan saat menjadi pekerja di perusahaan. Kalau katanya politik itu jahat dan kotor saya rasa bisa kita ubah dengan yang lebih baik," katanya.

Kedepan sebagai pimpinan Partai di Pekanbaru Ahmiyul Rauf tentu memiliki beban kerja dan tantangan yang berbeda. Mulai dari mempersiapakan kader terbaik untuk Pemilihan Walikota Pekanbaru dan juga langkah-langkah pemenangan nantinya dalam Pemilihan Presiden.

"Jabatan di PKS bukan karena kita mengajukan diri, salah satu tugas saya memenangkan Pemilu 2024 di Pekanbaru dan akan bekerja dengan teman dan punya strategi. Walaupun saya baru di politik, intinya di politik salah satu kunci keberhasilan adalah komunikasi sama dengan di perusahaan," katanya.

Salah satu setrategi yang harus dilakukan menurunya harus berkawan dan tidak mencari lawan.
"Kalau kita bekerjasama tentu bicara kepentingan, kita ingin bekerjasama dalam kepentingan bersama melayani Budaya melayani ini ada di perusahaan. Melayani rakyat dan NKRI", pungkasnya.

Kamis, 10 Februari 2022

Helmi Darlis, Sosok Wakil Walikota Pariaman Sederhana

Helmi Darlis, Sosok Wakil Walikota Pariaman Sederhana

Oleh : Labai Korok Piaman
Pejabat negara setiap Sabtu, Ahad atau hari libur nasional selalu memakai kedaraan dinas plat merah dengan mengganti plat hitam BA XXXX BS kemana-mana, baik jalan-jalan ke pasar, mall, acara partai atau kegiatan pribadi lainnya.

Namun perilaku itu tidak terjadi terhadap H. Helmi Darlis, Wakil Walikota Pariaman periode 2008-2013. Setiap Sabtu dan Minggu disaat menjemput Penulis ke pesantren selalu memakai mobil pribadi kijang kapsul, dan langsung beliau menyopiri.

Kebiasaan itu selalu dilakukan disetiap kegiatan pribadi dan kegiatan partai. Ada undangan acara kader PKS, beliau, Pak Haji Helmi panggilan akrab selalu memakai mobil pribadi, dan terkadang pernah numpang ke mobil sahabat beliau ketika mobil kijangnya itu rusak.

Begitu sosok sederhana Pak Wawa Kota Pariaman ini, dan selalu mampu memposisikan diri secara beretika terhadap fasilitas negara yang dipakai. Beliau santai saja tidak memakai mobil dinas tersebut kemana-mana, walaupun secara budaya umum boleh dipakai kemana saja.

Sosok Wakil Walikota Pariaman, H. Helmi Darlis sudah meninggalkan warga Kota Pariaman dan warga PKS, Kamis, 10/2/2021, Innalillahi wa innailaihi rajiun, Kota Pariaman kembali kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, dengan berpulangnya ke Rahmatullah, H. Helmi Darlis, SH.,Sp.N, tokoh asal Desa Koto Marapak, yang merupakan mantan Wakil Walikota Pariaman Periode 2008 - 2013.

Selama hidupnya, Penulis bersaksi beliau adalah orang baik, semoga beliau husnul khatimah dan semua amal ibadahnya selama ini, diterima disisi Allah SWT dan mendapatkan pahala yang berlimpah, dan kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi ketabahan dan kesabaran.

Sesuai arahan Genius, Walikota Pariaman sekarang, Walikota dan jajaran ASN melepaskan jenazah kepandam pakuburan dari Kantor Balaikota, pelepasan jenazah memakai upacara kenegaraan. Suasana haru iringi pelepasan jenazah Helmi Darlis, mantan Wakil Wali Kota Pariaman Periode 2008 - 2013 tersebut terjadi.

Selamat jalan putra terbaik Piaman, H. Helmi Darlis, Penulis beharap nilai-nilai kesederhanaan yang ditampilkan sewaktu beliau menjabat (pejabat negara) bisa ditiru oleh setiap Kita yang sedang memimpin, ataupun yang akan memimpin di daerah ini.

Kesederhanaan tersebut tidak secuil itu yang Penulis uraikan diawal tulisan dimana beliau memakai mobil pribadi dan juga menyopiri, tapi kesederhaan memanfaatkan fasilitas milik rakyat selalu dihindarinya. 

Diakhir masa jabatan beliau kembali jadi warga biasa, jadi kader PKS biasa, terakhir Penulis bertemu beliau dirumahnya di Padang saat melayani pembeli di kedai buku atau kedai foto copynya. Disana Penulis bertemu dan bercerita negeri kedepan.

Selamat jalan Ustadz H. Helmi Darlis, semua nasehat, pituah, dan tauladan disaat jadi pemimpin bisa Kami tiru, kesederhanaan, tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Aamiin[*].

Kamis, 28 Oktober 2021

Mengenal Muhammad Iqbal, Tokoh Muda Sumbar Asal Tanah Datar

Mengenal Muhammad Iqbal, Tokoh Muda Sumbar Asal Tanah Datar


Hari ini merupakan hari Sumpah Pemuda Indonesia ke 93 tahun, sejak tahun 1928 yang lalu. Perjuangan kaum muda dalam pembangunan negeri ini sangat besar baik saat sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan, pasca kemerdekaan sampai saat ini.

Pada tahun 1928, sebelum kemerdekaan pemudalah yang mendeklarasikan Sumpah Pemuda yaitu Pertama: Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia, Kedua: Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia, Ketiga:
Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. 

Selanjutnya pada masa Kemerdekaan kaum mudalah yang mendorong untuk memproklamasikan kemerdekaan kepada Soekarno - Hatta. Pasca Kemerdekaan sampai saat ini pemuda terus mempunyai peran dalam pembangunan bangsa ini.

Pada saat ini banyak tokoh muda yang menjadi pemimpin baik kepala daerah maupun kepala organisasi lain yang memberikan kontribusi untuk pembangunan Indonesia. Salah satunya adalah Muhammad Iqbal. Iqbal yang dikenal sebagai tokoh muda Sumbar yang berasal dari Tanah datar ini merupakan anak muda yang aktif di berbagai organisasi maupun aktifitas sosial lainnya.

Iqbal adalah aktivis yang hari ini aktif di DPD KNPI Sumbar sebagai Wakil Bendahara dan juga di BPD HIPMI Sumbar. Keberhasilan Iqbal sebagai aktivis organisasi, mengantarkannya ke dunia politik. Iqbal di amanahkan di partai politik yaitu Sebagai Sekretaris DPD Partai Gelora Indonesia Tanah Datar.

Iqbal, putra asli Tanah Datar, Kecamatan Rambatan, Nagari Balimbiang. Anak bungsu dari pasangan Agustar (alm) dan Jasmawati ini sudah aktif sejak kecil mulai dari SD memimpin upacara dan pramuka, SMP diamanahkan sebagai Ketua OSIS, hingga  Mahasiswa menjadi Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa di Universitas Andalas . Iqbal mempunyai cita cita bermanfaat bagi orang banyak.(*)

Minggu, 27 Juni 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA



8. TURUNNYA WAHYU PERTAMA

Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc, M. Ed (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)
Nabi Muhammad Saw. menyendiri (‘Uzlah) berkhalwat dan bertahannuts (beribadah) di gua Hira sekitar 3 tahun menjelang usia 40 tahun. Beliau berdiam dan bertafakkur selama sebulan lebih kurang, kemudian kembali ke rumah dan mencukupkan bekalnya, lalu Beliau balik lagi ke gua Hira. Begitulah berulang-ulang Beliau lakukan. Penyendirian ini merupakan tadbir (rekayasa) Allah untuk mengkondisikan dirinya menerima beban berat memikul risalah Nabi yang terakhir.

Enam bulan pada tahannuts tahun ketiga, Beliau selalu bermimpi dengan mimpi yang benar (ru’ya shadiqah). Yaitu mimpi yang serupa fajar shubuh yang menyingsing. Di tahun itu pula, ketika usia Rasulullah sudah memasuki 40 tahun, tampaklah tanda-tanda kenabian lainnya seperti sebuah batu di Makkah yang mengucap salam kepada beliau. Usia 40 tahun adalah usia kematangan manusia, dan kebanyakan Nabi atau Rasul diangkat oleh Allah pada usia tersebut.

Pada Ramadhan tahun ketiga Beliau melakukan ‘uzlah di gua Hira, datanglah kehendak Allah Swt. untuk menurunkan rahmatNya bagi semesta alam dan bagi manusia sampai akhir zaman. Allah Swt. turunkan wahyuNya yang pertama kepada Rasulullah Saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril. Wahyu itu turun pada hari Senin, tanggal 21 Ramadhan, kepada Nabi Saw. Umur Beliau Saw. ketika itu adalah 40 tahun, 6 bulan, 12 hari menurut hitungan Qamariyah dan diperkirakan berdasarkan hitungan Syamsiyah adalah 39 tahun, 3 bulan, 20 hari.

Di dalam kitab shahih Bukhari, terdapat hadits dalam bab “Awal Turunnya Wahyu kepada Rasulullah Saw. Dimana Ummul mukminin ‘Aisyah ra. menceritakan kisah turunnya Malaikat Jibril ini. Ketika berada di gua Hira, malaikat datang dan berkata, “Bacalah!” Nabi Muhammad Saw. berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Malaikat tersebut kemudian memeluk Rasulullah Saw. hingga terasa sesak, dan kemudian ia melepaskan Beliau.

Kemudian setelah itu, dia memintanya membaca kembali, Rasulullah Saw. berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Kemudian dia kembali memeluk Nabi Saw. untuk kedua kalinya hingga beliau merasa sesak. Kemudian malaikat Jibril melepaskannya dan berkata, “Bacalah!” Rasulullah Saw. berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Kemudian dia memeluk Nabi Saw. untuk yang ketiga kalinya, lalu melepaskannya. Kemudian malaikat tadi mengatakan:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Dengan turunnya wahyu pertama ini maka Nabi Muhammad Saw. telah resmi menjadi Nabi. Namun Beliau sendiri belum menyadari hal itu sepenuhnya. Sebab Beliau belum pernah tahu hal ini sebelumnya, dan Beliau adalah seorang yang ummi alias tidak bisa menulis dan membaca. Tentunya Beliau tidak pernah membaca tentang kisah nabi-nabi terdahulu ataupun tentang wahyu. Semua peristiwa ini betul-betul baru baginya.

Selesai menerima wahyu pertama ini, Rasulullah Saw. segera kembali pulang ke rumahnya, dalam keadaan ketakutan. Beliau masuk ke rumahnya dan menemui Khadijah binti Khuwailid ra. Rasulullah Saw. berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku.” Khadijah menyelimutinya hingga rasa takutnya hilang.

Rasulullah Saw. menceritakan apa yang baru saja terjadi dan menimpa dirinya di gua Hira. Beliau berkata kepada Khadijah setelah memberitahukan masalahnya, “Saya mengkhawatirkan diri saya.” Khadijah berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu sama sekali. Sebab engkau adalah orang yang suka menyambung hubungan silaturahim, membantu orang lain, memberi orang yang tidak punya, memuliakan tamu, membantu orang-orang yang tertimpa musibah.”

Tidak cukup dengan menenangkan suaminya saja, malah Khadijah kemudian membawanya untuk menemui anak paman Khadijah yang bernama Waraqah bin Naufal bin Asad Abdul Uzza. Waraqah ini adalah seorang penganut agama Nashrani pada zaman jahiliyah. Ia pandai menulis dengan bahasa Ibrani dan juga menulis Injil dengan bahasa Ibrani. Sehingga ia memiliki wawasan yang lumayan tentang kitab suci dan tentang kenabian.

Pada waktu itu Waraqah sudah berusia lanjut dan bahkan matanya sudah buta. Khadijah berkata kepada Waraqah, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah perkataan dari anak saudaramu.” Waraqah bertanya, “Wahai anak saudaraku, apa yang kamu telah lihat?” Rasulullah Saw. menceritakan semua yang telah beliau alami di gua Hira. Setelah mendengar penuturan Beliau, Waraqah berkata, “Ini adalah Namus (Jibril) yang Allah turunkan kepada Musa. Alangkah indahnya bila saya masih muda (kuat). Andai saja saya masih hidup saat kaummu mengusirmu dari kampung halamanmu.”

Rasulullah Saw. merasa heran dan bertanya, “Apakah mereka (kaumku) akan mengusir saya dari kampung saya?” Waraqah menjawab, “Benar, tidak ada orang yang membawa seperti apa yang engkau bawa ini, melainkan orang tersebut akan dimusuhi. Saya berjanji seandainya saya mendapatkan harimu itu, maka saya akan menolongmu dengan pertolongan yang maksimal.” Namun tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan ia tidak sempat mendapatkan kelanjutan masa kenabian Rasulullah Saw. ketika berhadapan dengan paman-pamannya dan kaum jahiliyah kota Makkah.

Kemudian selama beberapa hari setelah itu terputuslah wahyu. Pada hari-hari terputusnya wahyu Rasulullah Saw. hanya diam, termenung dan bahkan tampak gelisah. Imam Bukhari dalam kitab At Ta’bir pada Shahih-nya meriwayatkan, Rasulullah Saw. beberapa kali sempat lari ke bukit dan ingin menjatuhkan diri ke jurang. Namun ketika sampai ke puncak bukit, Malaikat Jibril menampakkan dirinya seraya mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah.”
Setelah itu Rasulullah kembali tenang dan pulang ke rumah. Selang beberapa hari wahyu berikutnya belum juga turun. Sehingga Beliau kembali gelisah dan pergi ke bukit. Lalu Malaikat Jibril menampakkan dirinya dan mengatakan perkataan yang sama. Beliau pun kembali tenang dan kini telah siap menerima wahyu berikutnya. Suasana ini merupakan cara Allah dalam mengkondisikan Rasulullah Saw. Sehingga Beliau menjadi sangat rindu akan turunnya wahyu Kembali.

Barulah kemudian Turun wahyu yang kedua, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya. Rasulullah bersabda: “Tatkala aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang berasal dari langit. Aku mendongakkan pandangan ke langit. Ternyata di sana ada malaikat yang mendatangiku di gua Hira, sedang duduk di sebuah kursi, menggantung di antara langit dan bumi. Aku mendekatinya hingga tiba-tiba aku terjerembab ke atas tanah. Kemudian aku menemui keluargaku dan kukatakan, ‘Selimuti aku, selimuti aku.”

Kemudian Allah Swt. menurunkan Surat Al Muddatsir ayat ayat 1-7: 
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)
Artinya: “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (QS. Al Muddatsir: 1-7)

Dengan turunnya surat Al Muddatsir ini secara resmi Nabi Muhammad Saw. telah menjadi seorang Rasul. Sebab di dalam ayatnya, Beliau sudah diperintahkan Allah untuk memberi peringatan dan menyampaikan wahyu kepada kaumnya. Walaupun pada tahap awal ini dakwahnya masih berlangsung rahasia atau diam-diam. Surat Al Muddatsir ini mengandung perintah mengagungkan Allah semata (tauhid), membersihkan pakaian dan badan dari kotoran, dan perintah membersihkan diri dari segala dosa. Sekaligus juga ada isyarat bagi Nabi Saw. akan beban berat dakwahnya ke depan, sehingga Ia harus bersabar menghadapinya.

Bersambung…

Minggu, 06 Juni 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA



7. KEHIDUPAN BERKELUARGA SAMPAI MENJELANG KENABIAN
Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)

Khadijah ra. merupakan istri pertama Muhammad Saw. Sampai wafatnya Khadijah, Rasulullah Saw. tidak ada menikahi satupun wanita lain. Dan Khadijahlah satu-satunya istri Beliau yang memberikan keturunan. Sedangkan dari istri-istri yang lain pasca wafatnya Khadijah, tidak ada yang memberikan keturunan. Adapun Ibrahim adalah anak Beliau dari Maria al Qibthiyah, budak yang dihadiahkan Raja Mesir kepada Rasulullah Saw.

Anak-anak Khadijah bersama Rasulullah ada 6 orang, secara berurutan adalah: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah dan Abdullah. Semua anak laki-laki Rasulullah wafat dalam usia kanak-kanak. Adapun anak-anak yang perempuan, semuanya sampai ke usia dewasa dan berjumpa dengan Islam dan semuanya masuk Islam. Namun semuanya wafat lebih dahulu dari pada ayah mereka, kecuali Fathimah. Ia wafat lebih kurang sekitar 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Sebelum menikah dengan Rasulullah Saw., Khadijah pernah menikah dengan dua orang tokoh Quraisy. Pertama ‘Utaiq bin Abid bin Makhzum. Kemudian ia meninggal dunia. Lalu Khadijah menikah lagi dengan Abu Halah bin Zurarah Al Usaidi. Kemudian Abu Halah juga meninggal dunia. Setlah itu Khadijah menolak semua lamaran lelaki Quraisy sampai ia menikah dengan Muhammad Saw.

Setelah menikah dengan Khadijah, Rasulullah Saw. memulai kehidupan barunya menjadi kepala rumah tangga. Memimpin keluarganya dan anak-anaknya yang hadir dari tahun demi tahun. Di samping itu, Beliau masih melanjutkan pekerjaannya berdagang. Di sisi lain, Beliau ikut serta dalam agenda-agenda kebaikan dan sosial masyarakat yang tidak berbau syirik dan dosa. Bila terkait dengan syirik seperti penyembahan berhala atau hari raya kaum musyrikin, atau terkait dengan perbuatan dosa seperti minum tuak, memakan sembelihan untuk berhala, maka Beliau menjauh dan tidak menyukainya.

Ibnu Katsir menceritakan dalam riwayatnya bahwa Rasulullah Saw. telah berkata: “Aku tidak pernah dahulu berniat mengikuti sebagian dari jahiliyah, kecuali dua kali. Kedua kalinya selalu Allah halangi (gagalkan) antara aku dan perbuatan tersebut. Kemudian aku tidak pernah lagi berencana untuk itu sampai Allah muliakan aku menjadi Rasul. Suatu malam aku sampaikan kepada teman sesama penggembala kambing denganku di pinggir kota Makkah, “Tolong lihatkan kambing-kambingku ini, aku akan masuk ke kota Makkah dan menikmati suasana malamnya dengan para pemuda.” Lelaki penggembala itu menjawab, “Silakan.” Maka berjalanlah aku menuju Makkah. Begitu aku memasuki gerbang kota Makkah, aku dengarkan suara nyanyian. Aku bertanya kepada orang sekitar, ‘Apakah itu?” mereka menjawab, “Itu pestanya si fulan.” Lalu aku duduk untuk mendengarnya. Namun Allah datangkan kepadaku rasa mengantuk yang sangat berat hingga aku tertidur. Dan aku baru terbangun ketika matahari pagi menerpa wajahku. Lalu aku kembali menemui temanku dan aku ceritakan apa yang terjadi semalam. Malam berikutnya kembali aku ingin melakukan hal yang sama. Begitu aku memasuki gerbang kota Makkah, terjadi lagi apa yang terjadi sebelumnya. Maka kemudian aku tidak pernah lagi berencana melakukan keburukan.” (Riwayat ini dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi, di dhaifkan oleh Ibnu Katsir).

Begitulah Allah mengkondisikan calon Nabi dan Rasul yang mulia. Kehidupannya penuh dengan kebaikan dan dirinya dihiasi dengan akhlak yang mulia. Ia terkenal sebagai seorang yang berakhlak mulia, jujur, sopan tutur katanya, menepati janji, memegang amanah, menjaga kehormatannya dan selalu membantu orang lain yang dalam kesusahan dan kebutuhan. Di dalam hadits shahih, Ummul Mukminin Khadijah ra. pernah memujinya:

إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَصْدُقُ الحَدِيْثَ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ، وَتَكْسِبُ المَعْدُوْمَ، وَتُقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الحَقِّ. (متفق عليه).

Artinya: “Sesungguhnya engkau orang yang selalu bersilaturrahim, menanggung beban orang lain, memberi orang yang tidak berpunya, memuliakan tamu dan senantiasa membantu sumber-sumber kebenaran.” (HR Bukhari).

Salah satu peristiwa penting ketika Beliau sudah berusia 35 tahun adalah peristiwa renovasi Ka’bah. Waktu itu bangunan Ka’bah sudah semakin keropos. Dan barang-barang berharga penduduk kota Makkah yang disimpan di dalamnya, sudah banyak yang dicuri oleh tangan-tangan jahil. Bencana alam seperti banjir dan badai juga sempat merusak beberapa bagian dari bangunan Ka’bah tersebut. Sehingga memang sudah sangat layak untuk dilakukan renovasi.

Awalnya kaum Quraisy agak ragu merehap bangunan Ka’bah. Sebab mereka takut celaka bila meruntuhkannya, karena bangunan ini warisan yang sakral semenjak zaman Nabi Ibrahim dan Ismail. Namun kemudian Al Walid bin Mughirah memberanikan diri untuk mulai meruntuhkannya, dan ia tidak mengalami apa-apa. Sehingga yang lain juga ikut serta melakukannya. Mereka merobohkan semua dinding lama sampai ke pondasinya. Kemudian mereka membangun ulang Ka’bah dengan ukuran panjang dan lebar sama-sama 10 meter, dan tingginya mencapai 15 meter.

Setelah bangunan Ka’bah sempurna mereka kerjakan, timbullah perselisihan diantara berbagai suku ini, tentang siapa yang berhak meletakkan kembali hajar aswad ke tempatnya semua. Perselisihan pendapat ini berlangsung sampai 5 hari 4 malam. Masing-masing suku merasa berhak untuk mendapat kehormatan ini. Hampir saja mereka saling menumpahkan darah karena pertikaian ini. Untunglah Abu Umayyah Al Makhzumi waktu itu mengusulkan adanya penengah (hakim) di antara mereka untuk memutuskan perkara tersebut.

Mereka semua sepakat untuk mengangkat hakim dalam perkara ini. Yaitu siapa yang pertama memasuki area Masjidil Haram waktu itu, dialah yang akan dijadikan sebagai penengah. Ternyata Allah takdirkan orang yang pertama masuk pintu Masjidil Haram waktu itu adalah Muhammad Saw. Mereka sangat senang dengan kejadian ini. Sebab Muhammad sudah terkenal di kalangan mereka sebagai seorang yang amanah lagi jujur. Sehingga mereka menggelarinya dengan gelar Ash Shaadiq Al Amin (jujur lagi terpercaya). Sepakatlah mereka untu tunduk dan patuh kepada keputusan Muhammad Saw. dalam perkara itu.

Muhammad Saw. memutuskan pada waktu itu untuk membuka sorbannya dan meletakkannya di atas tanah. Lalu Beliau meletakkan hajar aswad di tengah sorban tersebut. Lalu masing-masing kepala suku diminta untuk memegang ujung-ujung sorban dan mengangkat hajar aswad menuju sudut peletakannya. Sesampai di sudut Ka’bah, Rasulullah mengangkat hajar aswad dan meletakkannya di sudut tersebut. Semua pimpinan kabilah Quraisy merasa senang dan puas atas keputusan yang sangat bijak ini. Sehingga terhindarlah penduduk Makkah dari pertumpahan darah yang nyaris terjadi gara-gara peletakan kembali hajar aswad.

Sekitar 5 tahun terakhir menjelang usianya 40 tahun, Muhammad Saw. semakin menjaga dirinya dari kondisi masyarakat kota Makkah yang tenggelam dalam kesyirikan dan dosa. Dengan pemikirannya yang tajam, renungannya yang kuat, serta penjagaan khusus dari Allah, Beliau selalu terhindar dari potensi jatuh kepada dosa, maksiat dan bahkan perbuatan syirik (menyembah berhala).

Pada tahun-tahun terakhir mendekati usia kenabian, Allah mendatangkan kesukaan kepada Rasulullah Saw. untuk menyendiri jauh dari hiruk-pikuk kota Makkah. Ia pergi ke sebuah gua yang berjarak dari kota Makkah sekitar 2 atau 3 mil. Gua tersebut terkenal dengan nama gua Hira, di atas bukit Nur (Jabal Nur). Gua tersebut berukuran kecil, hanya cukup untuk duduk satu atau dua orang saja. Dan mulut gua tersebut agak mengarah ke Ka’bah yang jauh di sana di kota Makkah.

Beliau membawa bekal makanan dan minuman secukupnya. Beliau berdiam di sana beberapa hari atau kadang sebulan Ramadhan. Beliau beribadah dan bertafakkur menyaksikan ciptaan Allah Yang Maha Agung. Hatinya tidak tenang dengan apa yang tengah diperbuat oleh kaumnya yang menyembah berhala dan berbuat syirik. Namun Ia tidak mengetahui mana jalan kebenaran dan mana yang harus diikuti. Ketika bekalnya sudah habis, Beliau kembali ke rumah Khadijah untuk mengambil bekal selanjutnya, lalu kembali lagi ke gua Hira.

Bersambung…

Kamis, 27 Mei 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA


6. MENGAWALI DEWASA PENUH PERJUANGAN

Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc, M. Ed (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)
Kehidupan Nabi Muhammad Saw. mengawali dewasa sampai usia pernikahan sudah penuh dengan perjuangan. Disamping karena Beliau juga seorang anak yatim, pamannya Abu Thalib juga mempunyai anak yang banyak dan kehidupan yang tidak memadai. Karena itu Beliau ikut serta bekerja untuk mendapatkan rezeki dan membantu meringankan beban Abu Thalib.

Pekerjaan pertama yang Beliau lakukan sejak awal remaja adalah menggembala kambing. Dimulai dengan menggembala kambing-kambing keluarganya, lalu kemudian menggembala kambing penduduk Makkah. Dari sana Beliau menerima upah beberapa keping dinar. Dan sebenarnya banyak sekali para Nabi yang semenjak kecil adalah penggembala kambing ataupun domba. Seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Daud, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Isa dan lain-lain. Mengenai kerja para Nabi menggembala kambing ini, Nabi Muhammad Saw. bersabda:

مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ (رواه البخاري).

Artinya: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan dia mengembalakan kambing.” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau juga?” Maka nabi Muhammad menjawab, “Ya, aku pun mengembalakannya dengan upah beberapa qirat (keping dinar) milik penduduk Makkah.” (HR Bukhari).

Ada beberapa hikmah tersembunyi di balik pekerjaan Nabi Muhammad menggembala ini. Dengan menggembala kambing semenjak kecil, Beliau telah melatih dirinya dengan beberapa sifat mulia yang nantinya sangat dibutuhkan dalam memimpin kaum dan umatnya. Di antaranya sifar sabar, santun, tekun, rendah hati, penyayang, penuh perhatian, waspada dan kuat menanggung beban dan tanggung jawab.

Imam Ibnu Hajar al-Asqolani yang mensyarahkan hadits shahih Bukhari berpendapat, bahwa hikmah para Nabi menggembala adalah untuk persiapan mereka sebelum memimpin umatnya, dari pengalaman menggembala, para nabi belajar perbedaan dari satu kambing dengan kambing lainya, sehingga para nabi bisa siap menghadapi perbedaan pada umatnya.

Di samping bekerja sebagai seorang penggembala, Nabi Muhammad Saw. juga ikut serta secara aktif dengan perjuangan dan dinamika sosial para paman dan kerabatnya. Saat usia Beliau masih 15 tahun, terjadilah perang Fijar. Yaitu perang antara kaum Quraisy bersama sekutunya dari Bani Kinanah menghadapi kaum Qeis ‘Ailan. Pemimpin pasukan Quraisy waktu itu adalah Harb bin Umayyah.

Ibnu Hisyam dalam kita sirahnya menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. ikut serta dalam perang ini membantu paman-pamannya. Tugas Beliau adalah mengumpulkan anak-anak panah untuk para pamannya. Di awal peperangan Kinanah dan Quraisy mengalami kekalahan. Namun kemudian peperangan berakhir dengan kemenangan mereka.

Peperangan ini sebenarnya terjadi gara-gara ada pihak yang melanggar kesucian Tanah Haram dan juga bulan-bulan haram. Pasca peperangan ini terjadilah sebuah perjanjian koalisi kebaikan atau yang dikenal dengan istilah Hilful Fudhul. Koalisi kebaikan ini diikuti oleh Bani Hasyim, Bani Al Muththalib, Bani Asad bin Abdul Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab dan lain-lain. Perjanjian ini terjadi pada bulan Dzulqaedah di rumah Abdullah bin Jad’an.

Isi dari perjanjian koalisi ini adalah kesepakatan dan janji setia bersama untuk tidak membiarkan siapapun terzhalimi di kota Makkah. Mereka sepakat untuk membela yang terzhalimi sampai hak-haknya diperoleh kembali. Nabi Muhammad Saw. ikut serta menghadiri perjanjian koalisi kebaikan ini. Bahkan setelah menjadi Rasul, Beliau mengomentari peristiwa tersebut:

“Sungguh aku mengikuti sebuah sumpah perjanjian di rumah Abdullah bin Jad’an, dari sebuah perjanjian yang lebih aku cintai daripada aku memiliki unta merah. Dan seandainya aku diundang untuk mendatangi perjanjian yang seperti itu ketika aku telah mengenal Islam, maka sungguh aku akan memenuhi undangan tersebut.” (Sirah Ibnu Hisyam: 1/154-155)

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. sangat mendukung dan setuju ikut serta dan terlibat dengan perjanjian dan kesepakatan untuk menolak kezaliman dan membela pihak-pihak yang terzhalimi, walapun yang ikut serta dalam kesepakatan dan perjanjian tersebut bukanlah orang-orang Islam semuanya. Sebab menolak kezhaliman merupakan salah satu misi ajaran Islam.

Ketika usianya sudah mendekati 25 Tahun, Nabi Muhammad Saw. mulai menggeluti pekerjaan berdagang. Dan ini merupakan salah satu profesi utama penduduk Makkah waktu itu. Sebab kota Makkah adalah pusat pertemuan antara Utara dan Selatan, dan juga selalu didatangi pada musim haji oleh banyak orang. Di samping itu, kota Makkah juga daerah padang pasir tandus dan bukit-bukit berbatu yang tidak mungkin digunakan untuk bercocok tanam.

Nabi Muhammad Saw. berbisnis dengan membawa harta dagangan Khadijah ke negeri Syam. Khadijah adalah seorang wanita mulia dan kaya raya yang mempercayakan barang-barang dagangannya kepada beberapa pedagang Quraisy. Dalam perjalanan bisnis ini, Beliau Saw. ditemani oleh seorang budak laki-laki milik Khadijah yang bernama Maisarah.

Maisarah menyaksikan bagaimana kejujuran Muhammad Saw. dalam berdagang. Di samping itu ia juga melihat dan merasakan sendiri akhlak Beliau yang luhur, sifatnya yang mulia dan pemikiran yang cerdas serta ucapan-ucapan yang jujur selama perjalanan jauh tersebut. Sehingga Maisarah sangat kagum dan simpati kepada Beliau.

Sepulang dari perjalanan bisnis ke negeri Syam ini, Nabi Muhammad Saw. membawa keuntungan yang maksimal bagi bisnis Khadijah. Lebih dari itu, Khadijah mendapatkan cerita yang luar biasa dari Maisarah tentang sifat amanah dan akhlak mulia Beliau. Hal ini membuat Khadijah sangat tertarik untuk menikah dengan Nabi Muhammad Saw. Padahal sudah lama Khadijah menjadi janda, dan sudah beberapa orang pula pembesar Quraisy yang melamarnya. Namun Khadijah menolak lamaran tersebut.

Akhirnya Khadijah menceritakan keinginan hatinya ini kepada temannya yang bernama Nafisah binti Maniyyah. Kemudian Nafisah menyampaikan keinginan Khadijah ini kepada Rasulullah Saw. Dan ternyata Rasulullah Saw. ridha dan menerima maksud Khadijah tersebut. Setelah mendapat izin dari para pamannya, Nabi Muhammad pergi melamar Khadijah. Dan terjadilah akad nikah antara Muhammad Saw. dengan Khadijah disaksikan oleh Bani Hasyim dan pimpinan Bani Mudhar.

Rasulullah saw. menikah pada usia 25 tahun dan Khadijah waktu itu telah berusia 40 tahun. Dalam pernikahan tersebut Rasulullah Saw. menyerahkan mahar sebanyak 20 ekor unta. Mahar sebanyak itu menunjukkan Rasulullah Saw. pada usia 25 tahun telah memiliki kemapanan finansial yang luar biasa. Karena 20 ekor unta kira-kira saat ini senilai 600 juta rupiah lebih. Itulah buah dari kehidupan yang penuh perjuangan dan kemandirian semenjak awal usia remaja Beliau.

Bersambung…

Sabtu, 08 Mei 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA


5. DALAM ASUHAN IBU, KAKEK DAN PAMAN

Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)

Sekitar usia 4 tahun Muhammad Saw. kembali ke pangkuan Ibunda tercinta. Aminah sang Ibu merawat anaknya dengan penuh cinta. Apalagi anak semata wayang ini tidak lagi mempunyai ayah. Pada usia 6 tahun Aminah mengajak anaknya Muhammad Saw. mengunjungi kuburan ayahnya di Yatsrib (Madinah). Perjalanan cukup jauh mencapai hampir 500 km ini mereka tempuh bersama didampingi oleh budaknya Ummu Aiman dan juga sang Kakek Abdul Muththalib.

Aminah dan anaknya menginap di Madinah selama kurang lebih satu bulan. Kota Yatsrib juga merupakan kampung dari Ibu Abdul Muththalib yang bernama Salma. Sehingga Aminah serasa berada di tengah keluarganya sendiri. Setelah satu bulan, Aminah dan rombongan kembali ke Makkah. Dalam perjalanan pulang tersebut Aminah mengalami sakit dan kemudian meninggal di Abwa’ dan dikuburkan di sana.

Abdul Muththalib melanjutkan perjalanan sampai ke Makkah membawa cucunya yang mulia. Kecintaan dan kasih sayangnya kepada cucunya ini semakin bertambah dengan kamatian sang Ibu. Lengkaplah sudah, Muhammad Saw. telah berstatus yatim piatu, tiada berayah tiada beribu. Sehingga Abdul Muththalib tak pernah membiarkan cucunya sendirian. Ia resmi menjadi pengasuh bagi cucunya itu. Perhatian dan kasih sayangnya melebihi kepada anak-anak kandungnya sendiri. Sampai-sampai Rasulullah dibawa duduk disampingnya di tempat khusus (dipan) yang tak seorangpun boleh duduk di sana di dekat Ka'bah.

Ketika datang ke majelis Kakeknya di depan Ka’bah, Muhammad kecil Saw. duduk di pangkuan kakeknya. Ketika paman-pamannya hendak memindahkannya, Sang kakek berkata kepada mereka anak-anaknya (paman-paman Rasulullah): "Biarkan anakku ini, demi Allah sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung." Lalu Nabi Muhammad duduk disampingnya di tempat duduk khusus sang kakek. Ia mengelus-elus punggung cucunya itu dan merasa bahagia bersamanya.

Pada usia Muhammad Saw. 8 tahun lebih 2 bulan 10 hari, Abdul Muththalib meninggal dunia. Sebelum meninggal, dia telah berpesan agar Muhammad Saw. diasuh oleh Abu Thalib saudara kandung ayahnya Abdullah. Dan Abu Thalib mengambil tugas ini dengan sebaik-baiknya. Ia gabungkan Muhammad Saw. bersama anak-anaknya yang cukup banyak. Sebenarnya kehidupan Abu Thalib tidak terlalu berkecukupan. Anaknya juga banyak, diantaranya Thalib, ‘Uqail, Ja’far, Ali, Fakhitah dan Jumanah.

Demi menerima wasiat dari ayahnya Abdul Muththalib dan betapa terhormatnya Muhammad Saw. di mata kakeknya, Abu Thalib melanjutkan pengasuhan Muhammad Saw. Ia muliakan Muhammad Saw. melebihi anak-anak kandungnya sendiri. Karena memang Abu Thalib juga melihat bahwa ponakannya ini memiliki keistimewaan dan kelak akan menjadi orang besar dan mulia.

Pernah suatu hari saat kota Makkah mengalami musim kering yang parah. Hujan tidak turun pada waktu biasanya turun. Orang-orang Quraisy mengadu kepada Abu Thalib kondisi kekeringan yang parah ini. Mereka mengajak Abu Thalib untuk bersama-sama meminta hujan. Berangkatlah Abu Thalib bersama anak remaja tanggung (Muhammad Saw.) menuju Ka’bah. Dengan maksud tentunya berdoa di sana memohon turunnya hujan.

Sinar matahari sangat terik waktu itu. Muhammad Saw. yang sudah berada dekat Ka’bah merapatkan punggungnya ke dinding Ka’bah. Lalu Ia menengokkan wajahnya ke arah langit yang bersih tanpa awan sama sekali. Tiba-tiba saja awan berkumpul dan bergumpal-gumpal di atas kota Makkah. Dan tak lama kemudian turunlah hujan yang sangat deras. Sehingga kota Makkah menjadi sejuk dan lembah-lembahnya kembali berair. Peristiwa itu sangat berkesan bagi Abu Thalib dan kaum Quraisy. Muhammad Saw. yang remaja ini telah menyebabkan turunnya hujan bagi mereka.

Pada usia 12 tahun Muhammad Saw. sudah diajak oleh sang paman untuk melakukan perjalanan bisnis internasional. Yaitu pergi berdagang ke negeri Syam bersama rombongan pedagang Quraisy lainnya. Ketika mereka telah sampai di daerah Bushra di Syam, mereka bertemu dengan seorang pendeta Nashrani yang dikenal dengan sebutan Buhaira. Nama aslinya adalah Jurjis. Pendeta ini menjamu semua rombongan dengan penuh ramah.

Rupanya sang Pendeta ini telah mengamati rombongan ini dari jauh. Ia melihat ada fenomena aneh lagi ajaib yang terjadi terhadap rombongan ini. Karena itulah ia mengundang dan menjamu rombongan ini dengan baik. Yang menjadi menarik perhatiannya adalah seorang remaja yang ada dalam rombongan tersebut. Dialah Muhammad Saw. yang selalu ia perhatikan, bahkan saat berada dalam jamuannya.

Sehingga kemudian ia berkata kepada Abu Thalib: “Ini adalah pemimpin alam semesta. Ia akan diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi semesta alam.” Abu Thalib menjadi heran dan balik bertanya: “Bagaimana anda bisa mengetahui hal itu?” Buhaira menjawab: “Ketika kalian akan sampai di tempat saya ini, saya perhatikan pohon dan bebatuan sujud kepada anak ini. Dan tidak mungkin semua itu akan sujud kecuali hanya kepada Nabi. Dan sungguh saya melihat tanda kenabian di pundaknya seperti buah apel. Dan kami telah membaca itu semua dalam kitab suci kami.”

Kemudian pendeta Buhaira menyampaikan saran kepada Abu Thalib agar anak ini jangan melanjutkan perjalanan sampai ke negeri Syam. Akan tetapi segera pulang kembali ke Makkah. Ia sangat khawatir berita tentang anak ini sampai kepada kaum Yahudi. Sesungguhnya kaum Yahudi sangat cemburu dengan munculnya Nabi akhir zaman dari kalangan Arab bukan dari kalangan Yahudi. Mendengar saran tersebut Abu Thalib segera mengirim kembali Muhammad Saw. ke Makkah diantarkan oleh sebagian budaknya.

Bersambung…

Minggu, 25 April 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA


4. PENGASUHAN YANG BERKAH DAN ISTIMEWA

Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc, M. Ed (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)

Halimah As Sa’diyah menceritakan perjalanannya mencari bayi susuan ke kota Makkah. Ia berangkat bersama suaminya dan bayinya yang masih menyusu. Halimah menunggangi keledainya yang agak kurus dan terkesan tak bertenaga. Bersama mereka ada kambing betina, tapi tidak berair susunya. Halimah sendiri kondisinya juga tidak terlalu baik. Air susunya tidak memadai untuk bayinya. Semalaman mereka tidak dapat tidur nyenyak karena bayinya yang menangis kelaparan. Namun semangat untuk mendapatkan upah pekerjaan sebagai ibu susuan telah membuat mereka sampai ke Makkah.

Beberapa orang dari ibu susuan yang bersama Halimah sudah bertemu dengan bayi Muhammad. Akan tetapi karena bayi itu anak yatim, mereka semua balik kanan. Seberapalah nanti akan dapat upah dari ibu atau kakeknya. Itu pikiran mereka dan Halimah sepemikiran dengan mereka. Namun akhirnya takdir Allah menentukan lain. Halimah pulang membawa bayi Muhammad. Disinilah bermula keberkahan dan keajaiban itu terjadi.

Begitu bayi Muhammad dipangku oleh Halimah dan dibawa ke tempat rombongannya, langsung saja air susu Halimah melimpah. Sehingga bayi Muhammad menyusu sampai kenyang dan tertidur. Begitu juga bayi Halimah, juga menyusu sampai kenyang dan tertidur. Halimahpun bisa tertidur dengan lelap karena tidak lagi terganggu tangisan bayinya. Bahkan kambing betina mereka tiba-tiba saja air susunya penuh. Suami Halimah memerah susu kambing tersebut sehingga mereka berdua minum susu kambing sampai kenyang. Malam itu mereka betul-betul bahagia dan dapat tidur dengan nyenyak.

Pagi harinya Halimah bersama suaminya dan rombongan berangkat menuju kampung mereka di Bani Sa’ad. Dalam perjalanan pulang ini terjadi keajaiban lagi. Keledai Halimah yang sebelumnya tak bertenaga dan selalu ketinggalan rombongan saat berangkat, tiba-tiba menjadi kuat dan bertenaga. Bahkan mereka meninggalkan rombongan jauh di belakang. Rekan-rekan Halimah sampai bertanya-tanya penuh keheranan: “Wahai Binti Abi Dzuaib (Halimah), ada apa denganmu? Apakah itu keledaimu yang kemaren saat berangkat?” Halimah menjawab: “Betul, Demi Allah. ini keledai yang kemaren juga.” Mereka berkata, “Demi Allah, keledai ini ada sesuatunya.”

Keberkahan dan keajaiban ini terus berlanjut sesampai di kampung Halimah. Kondisi di rumah Halimah sebenarnya juga tidaklah baik-baik amat. Kambing-kambing ternaknya rata-rata kurus tak berdaging dan tidak berair susunya. Karena tanah sekitar mereka juga kurang subur, sehingga kambing-kambing tersebut tidak mendapatkan makanan yang maksimal. Bahkan pernah tetangga Halimah mengusulkan agar kambing-kambing itu dilepas saja, karena makanannya tidak mencukupi. Namun entah mengapa, saat Halimah dan suaminya pulang, kambing-kambing itu tampak dalam kondisi sangat kenyang dan susunya berair penuh. Sehingga Halimah sekeluarga memiliki persediaan susu dan daging kambing yang sangat cukup.

Dua tahun lamanya Halimah dan keluarga menjalani kehidupan yang sangat bahagia dan penuh berkah. Kehadiran bayi Muhammad di rumah mereka telah mendatangkan kebahagiaan dan rezeki yang melimpah. Jauh melebihi prediksi upah yang mereka harapkan dari ibu atau kakek Nabi Muhammad. Pernah suaminya berkata: “Wahai Halimah, sungguh engkau mendapatkan bagian yang sangat berkah.”

Ketika sudah datang masa menyapih bayi Muhammad, Halimah bersiap-siap untuk mengembalikan bayi Muhammad kepada ibunya Aminah. Tapi hatinya sudah sangat terpaut dan cinta dengan bayi yang berkah ini. Dalam hati ia tidak berniat mengembalikan bayi tersebut. Sehingga ia datang mengantarkannya kepada Aminah, ia membujuk Aminah dan berkata: “Biarlah anak ini bersama kami dulu sampai agak besar sedikit lagi dan kuat. Kami khawatir kalau-kalau nanti bayi ini terkena wabah penyakit di kota Makkah.” Dengan gigih ia terus merayu Aminah, sampai akhirnya Halimah pulang dan berhasil membawa kembali bayi Muhammad ke rumahnya di Bani Sa’ad.

Begitulah Muhammad kecil hidup dalam asuhan penuh tulus Halimah dan keluarganya di Bani Sa’ad. Bermain dengan anak-anak seusia dengannya termasuk dengan anak Halimah sendiri. Sampailah ia pada usia 4 tahunan, hingga terjadi peristiwa belah dada. Ketika itu Muhammad sedang bermain dengan teman sebayanya, tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril mengambil Muhammad. Jibril membaringkannya lalu membelah dadanya. Dari dalam dadanya Jibril mengeluarkan segumpal daging. Jibril berkata: “Ini bagian syetan dari dirimu.” Lalu Jibril membersihkannya dengan air zamzam dalam bejana yang terbuat dari emas. Kemudian Jibril mengembalikannya ke dalam dada dan mentautkan kembali dada yang tadi terbelah.

Anas bin Malik ra. sahabat Nabi menukilkan riwayat tentang peristiwa belah dada ini:
أنّ النَّبِي صَلَّى ‏اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم أَتَاهُ جِبْرِيلُ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ ‏القَلْبُ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ: هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانُ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ ‏بِمَاءِ زَمْزَم ثُمُّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ 
فِي مَكَانِهِ. (رواه مسلم).

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Saw. didatangi oleh Malaikat Jibril ketika ia sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Lalu Jibril mengambilnya dan merebahkannya. Kemudia Jibril membelah dadanya dan mengeluarkan segumpal daging dari dalamnya. Jibril berkata: “Ini bagian Syetan dari dirimu.” Kemudian Jibril mencucinya dengan air zamzam pada bejana emas. Lalu Jibril mengembalikannya ke tempat semua dan mentautkan kembali dadanya.” (HR Muslim).

Anak-anak teman sebaya Beliau langsung lari ketakutan. Mereka kabur ke rumah Halimah dan melaporkan kejadian yang baru saja mereka saksikan. Mereka katakan bahwa Muhammad telah dibunuh oleh seseorang. Tentu saja Halimah sangat kaget mendengar cerita mereka. Tidak lama kemudian Muhammad telah sampai di rumah Halimah dalam keadaan wajah yang pucat. Mereka semua menyambutnya dengan penuh heran sekaligus juga bahagia karena Muhammad telah kembali dengan selamat.

Peristiwa belah dada ini menjadi penyebab utama dikembalikannya Muhammad kepada ibunya Aminah. Halimah sangat khawatir dan ragu kalau-kalau anak ini mengalami kecelakaan atau kejadian yang buruk selama dalam pengasuhannya. Padahal ia sangat ingin terus berlama-lama dengan anak mulia yang telah mendatangkan keberkahan bagi keluarganya. Namun akhirnya Muhammad kecil harus kembali ke pangkuan ibunda tercinta, melanjutkan pengasuhan masa kecilnya.

Bersambung…

Minggu, 18 April 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

3. LAHIRNYA NABI ANAK YATIM
Oleh: Irsyad Syafar (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)
Ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah. Ia adalah anak paling kesayangan Abdul Muththalib dari 10 orang anak-anaknya. Abdullah nyaris disembelih oleh Abdul Muththalib karena nadzarnya saat dimudahkan untuk mendapatkan sumur zamzam. Abdul Muththalib sudah menggiring Abdullah untuk disembelih di depan Ka’bah. Akan tetapi saudara-saudaranya dan paman-pamannya dari kaum Quraisy tidak mengizinkan hal itu.
Akhirnya atas saran seorang wanita tukang tenung, Abdullah diundi dengan 10 ekor unta. Setiap kali diundi selalu yang keluar nama Abdullah. Maka Abdul Muththalib menambahkan 10 ekor unta lagi di setiap undian. Sampai 10 kali barulah unta yang keluar dalam undian. Sehingga waktu itu Abdul Muththalib menyembelih 100 ekor unta sebagai pengganti menyembelih Abdullah.

Abdullah dinikahkan oleh ayahnya Abdul Muththalib dengan seorang wanita mulia dan terpandang dikalangan Quraisy. Wanita tersebut adalah Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf. Wahab ayahnya Aminah ini adalah pemimpin Bani Zuhrah waktu itu. Ia juga seorang lelaki terpandang dikalangan Quraisy.
Tidak lama setelah pernikahan ini, Abdullah berangkat bersama rombongan Quraisy menuju negeri Syam dalam sebuah perjalanan bisnis. Saat pulang dari negeri Syam, rombongan singgah di Madinah dan menginap di sana. Ketika mampir di Madinah ini Abdullah jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Ia dikuburkan di Madinah di kampung An Nabighah Al Ja’diy. Abdullah meninggal dunia dalam usia 25 tahun.
Sementara Aminah yang ditinggal di Makkah kondisinya dalam keadaan hamil. Ketika datang berita kematian suaminya di Madinah, Aminah sangat bersedih. Ia lantunkan puisi duka meratapi kepergian suaminya yang belum lama menikahinya.

Abdullah meninggalkan warisan beberapa ekor unta dan domba serta seorang budak yang bernama Barakah, atau yang lebih dikenal dengan Ummu Aiman.
Selama mengandung Muhammad, Aminah tidak merasakan susah sedikitpun sampai ia melahirkan. Seolah-olah ia tidak mengalami kepayahan dan kesulitan sebagaimana yang biasa dialami seorang ibu dalam keadaan hamil. Aminah menceritakan tentang kelahiran anaknya yang mulia: “Ketika aku melahirkannya, keluar dari farajku cahaya yang menerangi istana kerajaan di negeri Syam.” (HR Ahmad).
Dalam riwayat lain Rasulullah Saw. menceritakan: “Ibuku menyaksikan ketika ia hamil, seolah-olah keluar dari perutnya cahaya yang menerangi istana-istana Bushra di negeri Syam.” (HR Ahmad). Ini merupakan isyarat dan pertanda yang mulia akan munculnya seorang manusia agung, Nabi dan Rasul Allah kepada seluruh alam. Risalah kenabiannya akan sampai ke negeri Syam tersebut dan kokoh di sana. Bahkan risalahnya akan menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Lahirlah bayi Muhammad sebagai seorang anak yatim, pada hari Senin tanggal 20 atau 21 April tahun 571 M, bertepatan dengan bulan Rabiul Awal. Para ulama berbeda pendapat tentang tanggalnya di bulan Rabiul Awal. Ayahnya sudah tiada saat ia masih dalam kandungan ibunya. Sang ibu sangat bahagia dengan kelahiran anaknya yang luar biasa ini. 

Terkait dengan kelahirannya pada hari Senin ini, Abu Qatadah al-Anshari ra. mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. ditanya tentang kebiasaan Beliau berpuasa sunat di hari Senin. Beliau menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ. (رواه مسلم).
Artinya:“Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari aku diutus.” (HR. Muslim).

Bayi Muhammad segera dibawa kepada kakeknya Abdul Muththalib. Sang kakek bahagia penuh suka cita dengan cucunya ini. Apalagi ia mendengar keajaiban yang diceritakan oleh Aminah saat kelahiran cucunya ini. Abdul Muththalib membawa bayi tersebut masuk ke dalam Ka’bah dan bersyukur kepada Allah atas kelahirannya. Bayi itu diberi nama Muhammad, nama yang tidak populer ketika itu di negeri Arab. Sebagaimana kebiasaan bangsa Arab waktu itu, Nabi Muhammad dikhitan pada usia 7 tahun.

Bayi Muhammad disusukan oleh ibunya untuk pertama kalinya. Disamping itu, ada perempuan lain yang juga pernah menyusuinya. Diantaranya adalah Tsuwaibah maula Abu Lahab. Tsuwaibah ini sebelumnya juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muththalib dan Abu Salamah bin Abdul Asad. Sehingga mereka berdua menjadi saudara sepersusuan dengan Nabi Muhammad.
Kelahiran Muhammad telah mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa bagi keluarga besar Abdul Muththalib. Kehadirannya seolah-olah menggantikan wafatnya anak laki-laki kesayangannya Abdullah. Dan kasih sayang Abdul Muththalib kepada cucunya ini semakin bertambah karena sang cucu lahir dalam keadaan yatim.

Sudah menjadi budaya juga di kalangan bangsawan Makkah waktu itu, bahwa anak-anak mereka yang baru lahir disusukan oleh wanita lain dari daerah perkampungan. Itu dilakukan dalam rangka menjaga kebersihan dan tumbuh kembangnya bayi di lingkungan yang lebih baik. Di waktu yang sama, ibu-ibu susuan yang datang dari perkampungan ini juga mendapat upah atas pekerjaan mereka menyusui tersebut. Sehingga itu telah menjadi profesi pula bagi mereka.
Tidak lama setelah lahirnya Muhammad, serombongan ibu-ibu susuan dari Bani Sa’ad datang memasuki kota Makkah. Mereka tentunya datang untuk mendapatkan pekerjaan sebagai ibu susuan. Di mana ada rumah yang mempunyai bayi, mereka datangi untuk menawarkan jasa mereka. 

Salah satu dari rombongan tersebut adalah Halimah yang datang bersama suami dan bayinya. Sebenarnya Halimah As Sa’diyah ini sudah mampir ke rumah Aminah melihat bayi Muhammad. Namun karena melihat bayi ini adalah anak yatim, Halimah agak ragu. Ia khawatir tidak akan mendapat upah yang layak.
Maka kemudian Halimah masih keliling di kota Makkah mencari bayi yang lain. Namun ketika saat rombongan sudah harus kembali ke kampung mereka, Halimah masih belum juga mendapat bayi susuan. Akhirnya ia dan suaminya kembali ke rumah Aminah dan bersedia menyusui bayi Muhammad. Halimah tidak ingin pulang dengan tangan hampa dan tidak mendapatkan pekerjaan. Sementara teman-temannya sudah mendapatkan pekerjaan semuanya. Maka berpindahlah bayi Muhammad dari pengasuhan ibunya ke pengasuhan ibu susuannya Halimah As Sa’diyah.
Bersambung…

Jumat, 16 April 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA


2. TENTARA BERGAJAH DAN KEJADIAN LUAR BIASA

Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)

Peristiwa kedua yang terjadi di masa kepemimpinan Abdul Muththalib adalah serangan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah. Bertahun-tahun lamanya rumah Allah "Ka'bah Yang Mulia" menjadi tujuan kedatangan para jamaah haji. Semenjak masa bapak para Nabi, yaitu Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail, setiap tahun manusia dari berbagai penjuru Arab datang ke Baitullah untuk beribadah melanjutkan syari'at Nabi Ibrahim. Begitulah penduduk Makkah dan bangsa Arab sekitarnya menganut agama tauhid ajaran Nabi Ibrahim as.

Namun setelah bertahun-tahun berlalu, dan manusia semakin jauh dari masa-masa kenabian, mulailah mereka menyembah berhala yang diletakkan di sekitar Ka'bah. Amru bin Luhay adalah pelopor dan orang yang pertama kali membawa berhala tersebut ke jazirah Arab. Ia melakukan hal tersebut setelah menyaksikan penyembahan berhala di negeri Syam. Karena tertarik dengan bentuk penyembahan seperti itu, Amru bin Luhay menularkannya ke bangsa Arab dan membawa satu berhala ke kota Makkah.
Berhala itu dimintanya dari suku Amaliq di negeri Syam. Lalu berhala tersebut dia letakkan di Ka’bah. Berhala inilah yang kemudian bernama Hubal. Disamping itu, Amru bin Luhay juga membuat dua berhala lainnya yang diberi nama Asaf dan Nailah, yang juga diletakkan disamping Ka’bah. Kemudian jumlah ini terus bertambah sampai berjumlah 360 berhala.

Terkait perangai Amru bin Luhay yang menjadi pelopor penyembahan berhala di kota Makkah, dan menyesatkan mereka dari agama Nabi Ibrahim, Rasulullah Saw. pernah menyatakan:
رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ عَامِرِ بْنِ لُحَيٍّ الْخُزَاعِيَّ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سَيَّبَ السَّوَائِبَ. (رواه البخاري).
Artinya: “Aku melihat 'Amru bin Luhay Al-Khuza'iy menarik punggungnya ke neraka dan dia adalah orang pertama mempersembahkan As-Sawa'ib (Saibah)." (HR Bukhari).

Walaupun menyembah berhala, tetapi penghormatan dan perhatian bangsa Arab (kaum Quraisy) terhadap Ka'bah sangat besar. Ka'bah bagi mereka tetap sebagai rumah yang mulia yang dihormati dan dijaga. Dari penjuru Arab orang selalu mengunjungi Ka’bah. Hal ini menyebabkan kecemburuan Raja Abrahah yang berada di Yaman. Ia tidak saja cemburu, bahkan sangat benci dengan posisi Ka'bah di hati bangsa Arab.

Untuk mengalihkan penghormatan tersebut, maka Raja Abrahah membangun sebuah tempat ibadah yang besar dan megah di negeri Yaman. Tempat ibadah tersebut bernama "Al Qullais". Abrahah sangat terobsesi untuk memalingkan bangsa Arab agar mengalihkan peribadatan mereka dari Ka'bah ke Al Qullais. Tetapi, bangsa Arab tidak tertarik dengan tempat ibadah tersebut. Dan tidak satupun yang datang beribadah ke sana. Akibatnya Abrahah sangat marah dan menggalang pasukan yang diperkuat dengan gajah-gajah besar.

Abrahah memimpin pasukannya menuju Makkah. Pasukan yang sangat kuat ini tidak saja unggul dari segi jumlah dan senjata, bahkan mereka membawa dan menunggangi beberapa ekor gajah. Semua itu dipersiapkan untuk meruntuhkan Ka’bah. Beberapa kabilah ada yang berupaya menghadang pasukan bergajah yang kuat ini, namun tidak mampu. Mereka dengan mudah dapat dikalahkan oleh Abrahah dan pasukannya.
Penduduk kota Makkah hanya bisa lari menyelamatkan diri keluar kota di atas-atas bukit. Abdul Muthhalib yang menjadi pemimpin kota Makkah saat itu juga tidak berdaya melawan. Bahkan 200 ekor untanya dirampas oleh Abrahah. Abdul Muththalib datang menghadap Abrahah melobi agar 200 ekor untanya dikembalikan. Abrahah merasa heran kenapa hanya untanya saja yang ingin dia selamatkan. Bukan memikirkan keselamatan Ka’bah. Abdul Muthalib menyatakan onta-onta itu dia tuannya. Jadi dia datang untuk memintanya kembali. Sedangkan Ka’bah itu Rumah Allah, biar Allah sendiri yang akan mempertahankannya.

Abrahah dan pasukannya telah sampai di depan Ka'bah dan bersiap untuk menghancurkan ka'bah. Tetapi gajah-gajah tidak berani maju menghancurkan Ka'bah. Ketika itulah, tiba-tiba langit menjadi gelap. Seolah-olah awan hitam besar menyelimuti langit. Itulah burung Abaabil dengan jumlah besar, datang membawa batu-batu kerikil. Setiap burung 3 batu kerikil dan melemparkan batu tersebut ke pasukan bergajah. Siapa yang terkena lemparan tak ada yang selamat. Abrahah dan seluruh pasukannya hancur binasa. Tubuh mereka rontok satu persatu bagaikan dedaunan yang rontok berjatuhan.

Akhirnya Abrahah gagal mewujudkan cita-citanya untuk menghancurkan Ka'bah. Bangsa Arabpun bahagia karena Ka'bah telah diselamatkan oleh Allah dengan burung Aababil. Peristiwa itu menjadi nama tahun tersebut, yaitu tahun Gajah, tahun 571 M. Mengenai peristiwa ini, Allah menceritakannya dalam surat Al Fiil ayat 1-5:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5).
Artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS Al Fiil: 1-5).

Kejadian luar biasa
Pada tahun 571 Masehi tersebut adalah tahun kelahiran Nabi Muhammad. Selain dari peristiwa pasukan bergajah yang sangat terkenal di seantero Jazirah Arab, bahkan sampai beritanya ke kerajaan Romawi dan kerajaan Etiopia, juga ada peristiwa-peristiwa lain yang luar biasa yang menjadi pertanda akan lahirnya Nabi akhir zaman.

Diantara peristiwa tersebut adalah runtuhnya 14 balkon istana Kisra Persia. Kemudian padam pula api yang sudah sangat lama disembah oleh orang-orang Majusi di Persia. Lalu gereja dan tempat ibadah Majusi di sekitar danau Saawah yang mereka sucikan runtuh, setelah air danau itu mengalami surut (menyusut).
Tanda-tanda yang mengiringi peristiwa kelahiran Rasulullah juga diceritakan dalam Kitab 'Dalail Nubuwwah' karya Al-Hafidz al-Mustaghfiry. Salah satu peristiwanya dialami seorang bernama Amru bin Murah al-Jahny yang meriwayatkan sebagai berikut:
"Dulu pada masa Jahiliyyah, aku dan rombonganku pernah sedang menunaikan haji di Makkah. Pada suatu malam, aku bermimpi melihat cahaya terang benderang memancar dari Ka'bah hingga ke Bukit Tsabir. Tak lama kemudian, terdengarlah suara ghaib dalam bentuk cahaya yang sangat terang benderang mengatakan:
"Telah tersingkap kegelapan. Telah bersinar cahaya yang menerangi. Telah diutus seorang Khatamun an-Anbiyya (Nabi akhir zaman) yang menerangi segala penjuru lain." Tampaklah bagiku istana-istana Hairah dan putihnya Madyan. Cahaya itu menampakkan suara: "Telah datang Islam . Telah tumbang berhala-berhala. Telah tersambung jalinan silaturrahim."
Lantas aku pun terbangun dari tidurku. Aku menceritakan mimpi yang kualami pada rombonganku tentang apa yang akan terjadi di Makkah dari suku Quraisy. Tak lama setelah kami pulang ke negeri kami, kami pun mendengar berita bahwa Ahmad (Muhammad) telah diutus ke muka bumi."
Bersambung…

Rabu, 14 April 2021

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

SERIAL SIRAH NABI UNTUK REMAJA

Oleh: H. Irsyad Syafar, Lc, M. Ed                    (Pembina Yayasan Waqaf Ar Risalah)


1. NASAB YANG MULIA

Nabi kita Muhammad Saw. berasal dari keturunan yang terhormat dan mulia. Ayahnya seorang lelaki yang baik, ibunya juga seorang wanita yang terhormat. Di dalam haditsnya Beliau menyebutkan bahwa dirinya memang orang pilihan dari orang-orang terbaik. Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

Artinya: "Sesungguhnya Allah memilih Isma'il dari anak keturunan Ibrahim dan memilih Kinanah dari anak keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari bani Kinanah, dan memilih Hasyim dari suku Quraisy serta memilihku dari bani Hasyim." (HR Tirmidzi)

Dari hadits ini dapat kita pahami bahwa nasab Beliau sampai ke Nabi Ibrahim adalah dari orang-orang yang dipilih oleh Allah. Dari keturunan Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad adalah dari garis keturunan Nabi Ismail. Dan dari keturunan Nabi Ismail, Nabi Muhammad adalah keturunan dari Kinanah. Sedangkan dari keturunan Kinanah, Nabi Muhammad berada pada garis keturunan Quraisy. Dan keturunan Quraisy yang terbaik itu adalah Bani Hasyim. Dan Hasyim ini merupakan ayah dari Kakek Rasulullah yang bernama Abdul Muththalib.

Secara berurut ayah dan kakek serta buyut Nabi Muhammad sampai ke Hasyim adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Sedangkan nasab Hasyim sampai ke Quraisy adalah: Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Quraisy. Sedang nasab Quraisy sampai ke Kinanah adalah: Quraisy bin Malik bin Nadhr bin Kinanah. Kemudian nasab Kinanah sampai ke Adnan adalah: Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Sedangkan nasab dari Adnan sampai kepada Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, itu diperselisihkan oleh para Ulama.

Sekilas mari kita berkenalan dengan beberapa kakek dan ayah Nabi Muhammad Saw. :

a. Hasyim

Beliau adalah pemimpin kota Makkah dari seluruh anak-anak keturunan Abdu Manaf. Kehidupannya lumayan berkecukupan dan terhormat. Ia yang menjadi pengendali air minum dan pemberi makan orang-rang yang berhaji ke kota Makkah. Ia jugalah yang pertama kali memberikan makanan terbaik bagi jamaah haji, yaitu makanan khas Arab yang lezat yang bernama tsarid yang terbuat dari daging domba.

Nama asli dari Hasyim ini adalah Amru. Ia digelari dengan hasyim karena Hasyim itu bermakna pemecah sesuatu dan pelopor. Beliaulah yang pertama kali menggagas dua perjalanan bisnis bangsa Arab. Yaitu perjalanan musim dingin (rihlatusy syita) dan perjalanan musim panas (rihlatash Shaif).

Ketika Hasyim bepergian dalam perjalanan bisnisnya ke arah Utara jazirah Arab, ia mampir di Madinah yang waktu itu masih bernama Yatsrib. Disana ia menikahi wanita Madinah yang bernama Salma Binti ‘Amr, dari keluarga Bani ‘Adiy bin Najjar. Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke negeri Syam untuk berbisnis. Sementara Salma ditinggal di Madinah dalam keadaan hamil. Kemudian Hasyim meninggal dunia di Gaza Palestina. Dan Salma melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Syaibah. Setelah dewasa Syaibah bergelar Abdul Muththalib.

b. Abdul Muththalib

Sebagaimana diterangkan di atas, Abdul Muththalib adalah anak Hasyim dengan istrinya Salma binti ‘Amru, wanita Madinah. Dengan demikian, nenek buyut Nabi Muhammad adalah orang Madinah juga. Tidaklah salah kemudian Nabi juga hijrah dan kembali ke Madinah, kampung dari nenek buyutnya.

Setelah meninggalnya Hasyim, kepemimpinan sementara di kota Makkah jatuh ke tangan saudara kandungnya yang bernama Muththalib. Ia seorang yang terpandang dan dipatuhi di kabilahnya. Ketika ia mendengar bahwa Syaibah (Anak Hasyim yang di Madinah) sudah beranjak remaja dan dewasa, maka Muththalib berangkat ke Madinah menjemputnya. Dalam budaya Arab, anak itu ikut nasab ayahnya dan milik keluarga ayahnya. Karena itulah Muththalib pergi ke Madinah menjemput ponakannya tersebut.

Awalnya keluarga Salma di Madinah tidak berkenan melepaskan anak mereka dibawa ke Makkah. Akan tetapi karena kepiawaian Muththalib melobbi Bani ‘Adi dan ibu kandung Syaibah, berhasillah ia membawa Syaibah ke Makkah. Ia mengatakan kepada ibunya: “Anak ini menuju kerajaan ayahnya sebagai penggantinya, dan menuju rumah Allah. maka ibunya dengan rela melepaskan Syaibah dibawa pamannya ke Makkah.

Muththalib memboncengkan ponakannya di atas punggung onta menuju Makkah. Dalam posisi dan kondisi inilah mereka berdua memasuki kota Makkah. Sehingga orang-orang menyebut Syaibah: “Ini Abdul Muththalib, ini Abdul Muththalib (ini budak dari Abdul Muththalib).” Kemudian gelar dan panggilan itu melekat pada diri Syaibah dan menjadi populer dengan panggilan Abdul Muththalib.

Muththalib masih memimpin kota Makkah sampai wafat. Kemudian kepemimpinan kota Makkah kembali kepada Abdul Muththalib sebagai pelanjut ayahnya Hasyim. Sempat juga Naufal paman Abdul Muththalib merebut posisi kepemimpinan setelah wafatnya Muththalib. Namun dengan dukungan dari paman-pamannya di Madinah dari Bani Najjar, dan juga dari kalangan Bani Hasyim, hak kepemimpinan kota Makkah jatuh ke tangan Abdul Muththalib.

Semasa kepemimpinan Abdul Muththalib ada dua peristiwa penting yang terjadi. Pertama peristiwa ditemukannya kembali sumur zamzam, dan yang kedua peristiwa serangan pasukan bergajah ke Ka’bah.

Terkait penemuan sumur zamzam, Abdul Muththalib menjadi tokoh utamanya. Sumur zamzam sudah cukup lama hilang tertutup tanah dan pasir. Maka Abdul Muththalib bermimpi melihat posisi sumur zamzam tersebut dan mendapat perintah untuk menggalinya. Maka ketika terbangun ia segera mencari lokasi yang ditunjukkan dalam mimpinya tersebut. Sehingga kemudian ia berhasil menemukan kembali mata air zamzam. Bahkan dalam penggalian itu ia menemukan beberapa senjata seperti pedang, tombak dan perisai serta harta lainnya dari emas. Semua harta itu ia gunakan untuk kepentingan Ka’bah.

Karena mendapatkan kehormatan dan kekhususan menguasai sumur zamzam ini, maka Abdul Muththalib bernadzar jika ia mendapatkan 10 anak lelaki, ia akan menyembelih salah satunya. Ternyata undian ini jatuh kepada Abdullah ayah Nabi Muhammad yang masih bujang. Hampir saja Abdul Muththalib hendak melaksanakan nadzarnya menyembelih Abdullah. Namun keluarga besarnya melarang eksekusi tersebut dan meminta Abdul Muththalib menebusnya. Maka Abdul Muththalib menyembelih 100 ekor unta sebagai pengganti penyembelihan Abdullah.

Dengan kejadian itu, Nabi Muhammad Saw adalah keturunan dari dua orang yang nyaris disembelih. Yaitu Ismail yang nyaris disembelih oleh ayahnya Ibrahim, dan Abdullah yang nyaris disembelih oleh ayahnya Abdul Muththalib.

Bersambung….

Senin, 12 April 2021

Metamorfosa Audy Joinaldy dari berbisnis, mengajar hingga berpolitik

Metamorfosa Audy Joinaldy dari berbisnis, mengajar hingga berpolitik


Walau berasal dari keluarga berlatar belakang sebagai pengusaha, selepas menempuh perkuliahan Audy tidak langsung terjun menjadi pengusaha, melainkan bekerja secara profesional pada perusahaan multinasional. Dari bekerja inilah awalnya Audy Joinaldy mulai membentuk jejaringnya.

Selepas bekerja selama beberapa tahun, Audy akhirnya memutuskan untuk memulai usaha sendiri di bidang manufaktur bahan baku ternak dengan skala kecil dan modal seadanya. Setelah itu usahanya pun mulai berkembang dari pabrik pakan ternak, pembibitan dan penetasan ayam pedaging, kandang ayam broiler/pedaging dan kandang ayam petelur hingga rumah potong ayam untuk bidang peternakan. Di waktu bersamaan Audy juga membangun usaha di bidang pertanian, khsususnya dalam tanaman pangan seperti jagung, beras dan juga kedelai. Perusahaan ini bergerak di bidang pembenihan jagung, hingga penyaluran atau logistik jagung dan juga bekerja sama dengan perusahaan multinasional yang memproduksi benih jagung.

Dari dunia usaha inilah nama Audy mulai dikenal publik di dunia peternakan dan pertanian, Audy pun makin dikenal oleh publik setelah menjadi Ketua Alumni Peternakan (Hanter) IPB. Audy membangkitkan organisasi yang sempat mati suri ini dengan mendirikan DPD Hanter di seantero Indonesia mulai dari Sumatera hingga Papua. Adapun Alumni Fapet IPB seluruh Indonesia diperkirakan sudah mencapai 11.000 orang.


Kemampuan Audy dalam public speaking yang atraktif dan dinamis juga mulai di dengar oleh publik. Sebagai seorang pengusaha yang memiliki gelar akademik dan profesi yang berderet menjadi daya tarik tersendiri. Karena itulah Audy sering diundang oleh berbagai Universitas, Dinas maupun Institusi lainya untuk menjadi pembicara, baik itu kuliah umum, kuliah tamu, talkshow, seminar baik nasional maupun internasional. Audy pernah membawakan materi di berbagai Universitas ternama di Indonesia dan bahkan menjadi dosen dalam beberapa mata kuliah (Usaha peternakan, Pengantar Ilmu Peternakan, Nutrisi Unggas, Industri Makanan Ternak, Produksi Unggas Komersial) di Fakultas Peternakan IPB dan juga terdaftar secara resmi di Fakultas Peternakan UGM sebagai dosen dari industri.

Dunia bisnis dan pendidikan akhirnya mengantarkan Audy ke dunia yang tidak pernah Audy pikirkan atau ingin masuki sebelumnya, dunia Politik. Masuknya Audy ke dunia tersebut di awali oleh perjumpaan Audy dengan salah satu tokoh nasional asal Sumatera Barat. Karena kemampuan berbisnis dan "mengajar" Audy lah yang membuat Audy "kecemplung" di dunia yang Audy awam sama sekali ini. Audy Joinaldy pebisnis sukses yang juga merupakan tokoh milenial Sumbar ini adalah Wakil Gubernur Sumatera Barat periode 2021-2024, provinsi paling indah di Indonesia yang merupakan provinsi asal nenek moyang Audy Joinaldy

Riwayat Pendidikan

  • TK Islam Al-Azhar Kemandoran 1987-1989
  • SD Islam Al-Azhar Pusat 1989-1995
  • SMP Islam Al-Azhar Pusat 1995-1998
  • SMA Islam Al-Azhar Pusat 1998-2001
  • Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor 2001-2005
  • Wageningen University 2005-2007
  • Magister Manajemen Universitas Hasanuddin 2010-2012
  • Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor 2017- skrg
  • Profesi Insyinyur Peternakan Universitas Gadjah Mada 2018-2019
  • Insyinyur Profesional (PII) 2019
  • Asean Engineering (AFEO) 2019

Profil Pengalaman Organisasi

  • 2001-2002 Kepala Divisi Kewirausahaan BEM TPB IPB
  • 2005-2006 Presiden Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Wageningen Netherlands
  • 2017-2021 Bapak Asuh Futsal IPB
  • 2017-sekarang Kader DPP PPP
  • 2018-2022 Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Peternakan IPB
  • 2019-2019 Wakil SekJend 2 Saudagar Minang Raya
  • 2019-2021 Dosen Industri Fakultas Peternakan UGM
  • 2019-2021 Anggota Tim Bisnis Saudagar Minang Raya
  • 2019-2023 Wakil Ketua Umum Perhimpunan Alumni Pelajar Mahasiswa Minang (PAPMM)
  • 2019-2024 Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Masyarakat Dewan Pengurus Pusat Pinsar Indonesia
  • 2019-sekarang Anggota PII (Persatuan Insinyur Indonesia) “The Institution of Engineers Indonesia”
  • 2019-sekarang Anggota AFEO “ASEAN Federation of Engineering Organisations”

Profil Keluarga

Audy Joinaldy merupakan anak pertama dari pasangan Joinerri Kahar yang berasal dari Padang dan Desmilia yang berasal dari Solok. Audy Joinaldy menikah dengan dr. Fitria Amalia Umar, Sp.KK, M.Kes pada tanggal 11 November 2007 beliau seorang dokter alumni Universitas Indonesia dan saat ini menjadi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di beberapa Rumah Sakit di Jakarta. Istri Audy Joinaldy merupkan keturunan Arab. Audy Joinaldy saat ini memiliki 3 orang anak yang kesemuanya bersekolah di Al-Azhar Pusat. Jannaisya Aufilia Joinaldy (Naisya-11), Zafransya Aulia Joinaldy (Zafran-6) dan Zadrinsya Aufal Joinaldy (Zadrin-3).

Audy Joinaldy adalah anak pertama dari 3 bersaudara yang kesemuanya laki-laki. Kompol Joinaldo, S.H, S.IK, M.H, M.IK , Adik Pertama Audy Joinaldy merupakan perwira polisi berpangkat Kompol yang bertugas di Mabes Polri dan menikah dengan Jessica Sadikin dan telah mempunyai dua orang Putra Jarga dan Jeidhan. Joifadi, S.E, B.Sc, Adik kedua Audy Joinaldy merupakan seorang pengusaha alumnus Universitas Indonesia dan Groninegn Belanda yang saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di Institut Teknologi Bandung (ITB) Business School.

Keluarga Minang

Audy Joinaldy lahir di Jakarta dari keluarga sangat sederhana. Ayah Audy Joinaldy tidak pernah menamatkan pendidikan tingginya dan memulai hidupnya dari “Nol”. Ayah Audy Joinaldy pernah berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), itulah mengapa Audy Joinaldy juga ketika SMA sangat ingin berkuliah di IPB, untuk menyelesaikan apa yang Orang Tuanya tidak bisa selesaikan. Pada masa itu, Ayah Audy Joinaldy bekerja sebagai pengusaha kecil-kecilan utk menghidupi keluarganya. Bahkan untuk Audy Joinaldy bersekolah dasar saat itu orang tuanya terpaksa meminjam uang ke kerabat agar Audy Joinaldy dapat bersekolah, dimasa itu Audy Joinaldy bersekolah di SD hingga SMA di Al Azhar Pusat Kebayoran Baru.

Kakek Buyut Audy Joinaldy adalah Marah Adin, yang merupakan Kepala Dinas Pertanian Sumatera Tengah pada masanya. Juga sebagai salah satu pendiri Fakultas Pertanian Universitas Andalas dan menjadi Acting Dekan saat pendiriannya. Beiau juga Ketua Panitia pembentukan Kota Solok. Bahkan nama beliau diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Solok dan juga kota Payakumbuh.

Kakek Buyut Marah Adin memiliki seorang putri bernama Aisyah, beliau lah Andung Kandung Audy Joinaldy dari pihak Ibu, yang tidak pernah Audy Joinaldy temui karena beliau wafat sebelum Audy Joinaldy lahir. Ibunda Audy Joinaldy adalah anak ke 5 Andung Aisyah. Kakek buyut Marah Adin sempat hadir di pernikahan Ibu dan Ayah Audy Joinaldy di tahun 1982 dan wafat pada tahun 1983. Ketika Buyut Marah Adin wafat di tahun tersebutlah Audy Joinaldy hadir didunia. Tuhan seperti ingin menggantikan sosok besar di dunia Pertanian Sumatera Barat dengan lahirnya Audy Joinaldy yang saat ini akan berjuang mengembalikan kejayaan Pertanian Sumbar sebagaimana Kakek Buyut Marah Adin telah melakukannya.

Kakek Buyut Marah Adin

Alm. H. Marah Adin Datuk Penghulu Sati

Tempat/tgl lahir: Sumagek Aro IV Korong, Solok tanggal 24 Juli 1898
Pekerjaan: Pensiunan Inspektur Pertanian/ Kepala Dinas Pertanian Rakyat Provinsi Sumatera Tengah

Riwayat Pendidikan:
Inlasch School der Klasse I/II di Solok (1904-1905)
Inlasch School der Klasse III/IV di Sawah Lunto (1905-1908)
Sekolah Europeshce Lagere School (Sekolah Rendah Barat) di Sawahlunto dan Solok (1909-1915)
Middlebare Landbouw School (MLS) setingkat SPP SPMA di Bogor (1915-1921)
Pengalaman Pemateri
  • Pembicara. Seminar Penanganan Pasca Panen Jagung, Pinrang Sulawesi Selatan, 8 Mei 2009.

  • Pembicara. Seminar on Broiler and Layer Modern Management at PT Freeport, Timika Papua, 19 Mei 2010.

  • Pembicara. Seminar on Egg nutrition on Elementary Teacher, SDN Bontojai Makassar Sulawesi Selatan, 2 November 2010.

  • Pembicara. Egg Campaign on Student, SDN Bontojai Makassar Sulawesi Selatan, 3 November 2010.

  • Pembicara. Seminar on Broiler Modern Management, Samarinda Kalimantan Timur, 24 November 2010.

  • Pembicara. Seminar on Broiler Modern Management and Future Poultry Business in NTB, 3rd Anniversary UD Kartika Agro Group, Mataram Nusa Tenggara Barat, 26 Februari 2011.

  • Pembicara. Seminar on Egg Nutrition for Elementary Teacher, SDN Kapasa Makassar Sulawesi Selatan, 10 Maret 2011.

  • Pembicara. Egg campaign and games for Elementary Student, SDN Kapasa Makassar Sulawesi Selatan, 11 Maret 2011.

  • Pembicara. Seminar on Broiler Modern Management at Iping Group, Bati-Bati Kalimantan Selatan, 28 April 2011.

  • Pembicara. Seminar on Broiler and Layer Moder Management and Situation on current Poultry Consumption in Indonesia, Timika Papua, 12 Oktober 2011.

  • Pembicara. Seminar on Broiler and Layer Modern Management and Situation on current Poultry Consumption in Indonesia, Jayapura Papua, 13 Oktober 2011.

  • Pembicara. Peran Wirausaha muda peternakan dalam mewujudkan kemandirian peternakan   Indonesia berbasis sumber daya lokal, Bakti Amal Mahasiswa Peternakan Indonesia, Fakultas Peternakan Universitas Haluoleo Kendari, 2 November 2016.

  • Kuliah Umum: Meningkatkan kapasitas personal dalam menjawab tantangan globalisasi industri perunggasa, Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako Palu, 6 September 2016.

  • Stadium General: Membangun wirausahawan muda berbasis peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Haluoleo Kendari, 19 Januari 2016.

  • Seminar Nasional (Pembicara Utama): Meningkatkan semangat berwirausaha untuk menghadapi persaingan global, Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako Palu. 2 Juni 2016.

  • Kuliah Umum: Penguatan stakeholders bidang peternakan sebagai daya dukung pengembangan dunia usaha dan dunia industr, SPPN Sidrap Sulawesi Selatan, 26 April 2017.

  • Pembicara Meet the Cowboy Angkatan 53 Fakultas Peternakan IPB. Bangga Menjadi Sarjana Peternakan!!. Bogor. 30 Agustus 2017.

  • Talkshow Back to Village, Anamorphic, Keluarga Mahasiswa Lampung IPB, Bandar Lampung, 4 Februari 2018.

  • Talkshow Pengenalan Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB angkatan 55, Bogor, 16 Agustus 2018.

  • Talkshow Kewirausahaan, Expo KMI IX, IPB, Bogor, 11 November 2018

  • Kuliah Umum (CEO and Leadership Forum) Sekolah Bisnis IPB, Bogor, 15 November 2018.

  • Seminar Nasional (Pembicara Utama), Inovasi Teknologi Peternakan Dalam Mendukung Terwujudnya Ketahanan Pangan Nasional,Universitas Halu Oleo, Kendari 17 November 2018.

  • Pembicara Utama, Seminar Nasional dan Kongres ISPI XII. Konsolidasi Sarjana Peternakan dalam Mendukung Kemandirian Pangan Asal Ternak, Kapitalisme di Industri Perunggasan Indonesia. Universitas Brawijaya, Malang 6-8 Desember 2018.

  • Studium General Pembekalan Karir Pra Wisuda, IPB, Bogor 10 Desember 2018.

  • Kuliah Umum. Peluang Tantangan dan Strategi Bisnis Berbasis Sumber Daya Alam. Strategi dan Inovasi Bisnis Peternakan. Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia, Depok 13 Desember 2018.

  • Narasumber. Lokakarya Kurikulum Fakultas Peternakan IPB, Papyrus Tropical Hotel, Bogor, 14 Januari 2019.

  • Talkshow Back to Village, Patronize, Keluarga Mahasiswa Lampung IPB, Hotel Bukit Rindu, Bandar Lampung, 20 Januari 2019.

  • Kuliah Umum. Kewirausahaan Industri Perunggasan 4.0 di Indonesia. Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Mataram 9 April 2019.

  • Pembicara Lokakarya Akademik Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak, Sekolah Vokasi IPB Bogor, 16 April 2019.

  • Seminar Pengusaha Minang 4.0, Kewirausahaan Agroindutri Indonesia. PAPMM (Perhimpunan Alumni Pelajar Mahasiswa Minang), PKSPL IPB Bogor, 27 April 2019.

  • Talkshow, Generasi Muda Minang yang Tangguh untuk Kemakmuran Bangsa. Halal Bi Halal Yayasan Minang Bandung, Gedung City Plaza Jakarta, 23 Juni 2019.

  • Kuliah Umum. Entrepreneurship Industri Perunggasan 4.0. Fakultas Peternakan, Universitas Nusantara PGRI Kediri, 1 Juli 2019.

  • Pembicara. Summer Course on Applied Sciences for Sustainable Tourism. SDG's and CRM Certification. Departemen Ekonomi dan Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB, 10 Juli 2019.

  • Sambutan. Upacara Wisuda dan Penyerahan Ijazah Program Pendidikan Diploma Sekolah Vokasi IPB, Tahap I Tahun Akademik 2019/2019, GWW Dramaga Bogor, 24 Juli 2019.

  • Pembicara. Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) IPB Tahun 2019-Fakultas Peternakan. Bangga Sebagai Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB. Aula JHH Fakultas Peternakan IPB Dramaga Bogor, 6 Agustus 2019.

  • Kuliah Tamu. Mata Kuliah Industri Pakan. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB. Bogor, 14 Agustus 2019.

  • Invited Speaker. Seminar Nasional Persepsi IV. Spirit Humanisme Di Era Revolusi Industri Bidang Peternakan. Strategi Meningkatkan Daya Saing Industri Perunggasan di Era Digitalisasi dan Perdagangan Bebas. Makassar, 21 Agustus 2019.

  • Kuliah Umum. Entrepreneurship on Agro Industry 4.0. Universitas Muslim Maros Sulawesi Selatan, 22 Agustus 2019.

  • Pembicara. Temu Nasional Forum Logistik Peternakan Indonesia, Aplikasi Teknologi Digital pada Industri Logistik Peternakan 4.0. Digitalisasi pada Logistik Perunggasan: Apa yang kita butuhkan?.Ildex ICE BSD, 18 September 2019.

  • Pembedah Buku. Jagung Untuk Pakan: Masalah dan Solusinya dari Hulu ke Hilir, penulis: Dr Mursyid Ma'sum. Kongres AINI. Ildex ICE BSD Tangerang 19 September 2019.

  • Pembahas. Livestock and Waste Management Forever. Ildex ICE BSD Tangerang 20 September 2019.

  • Pembicara. Seminar and Competition of Animal Science 2019. Peran Mahasiswa dalam Optimalisasi Peternakan sebagai upaya mendukung SDG 2030. Industri Perunggasan Indonesia, Peluang dan Tantangan. Fakultas Peternakan IPB, 29 September 2019.

  • Pembicara. Entrepreneurhsip on Digital Era 4.0. Universitas Bung Hatta, Padang 7 Oktober 2019.

  • Pembicara. Tantangan Industri Peternakan di Era Revolusi Industri 4.0. Digitalization in Poultry Industry: What We Need?. Dies Natalis Fakultas Peternakan Universitas Andalas. Padang 8 Oktober 2019.

  • Pembicara. Seminar Sehari Bulan Bhakti Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Kontes Ternak tahun 2019 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur. Persiapan Sumber Protein Hewani Unggas (Ayam dan Telur) dalam Rangka Penetapan Provinsi Kalimantan Timur sebagai Ibukota Republik Indonesia. Samarinda 11 Oktober 2019.

  • Kuliah Tamu. Mata Kuliah Usaha Peternakan. The Easiest Way to Become on Entrepreneur on Anumal Husbandry and Livestock Industry. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB. Bogor 14 Oktober 2019.

  • Pembicara. Seminar Nasional DPP HA IPB. Perubahan Paradigma Dunia Usaha Berbasis Transformasi Digital. Auditorium Andi Hakim Nasution IPB. Bogor 15 Oktober 2019.

  • Invited Speaker. The International Conference of The International Society For

  • Economics and Social Science of Animal Health South East Asia (ISESSAH-SEA 2019). Prospects on Animal Health Business in Digital Era. IPB Convention Centre, Bogor 18 Oktober 2019.

  • Pembicara. Seminar Internasional Peternakan. Peran ISPI dalam Menghadapi Industri Peternakan 4.0 Untuk Membangun Desa Mandiri. Strategi peningkatan daya saing industri perunggasan pada era digital 4.0 dan perdagangan bebas. Pontianak 22 Oktober 2019.

  • Pembicara Kuliah Tamu. CEO Talk and Entrepreneurial Development Forum. Sekolah Bisnis IPB Program Magister. Bogor 12 November 2019.

  • Sambutan. Hanter International Seminar: Making Indonesia's Livestock Industry 4.0. Bogor 14 November 2019.

  • Kuliah Umum. Kewirausahaan Industri Perunggasan 4.0. Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Bali 19 November 2019.

  • Invited Speaker. International Conference on Improving Tropical Animal Production for Food Security, Theme: Intensive Research and Development for Sustainable Agricultural Product. Strategy to Improve Competitiveness on Poultry Industry 4.0. Kendari 23 November 2019.

  • Pembicara. Ngopi Alumni IPB, Makan Ngopi, Ngobrol Petanian. Strategi dalam Percepatan Pembangunan Pertanian Menghadapi Era Industri 4.0 Bersama Alumni IPB dan Stakeholders Pertanian. Bogor 29 November 2019.

  • Kuliah Umum. Kewirausahaan Industri Perunggasan 4.0. Fakultas Peternakan dan Perikanan Univeristas Tadulako. Palu 3 Desember 2019.

  • Pembicara. Seminar Peran Layer Farm dalam Mendukung PON XX tahun 2020 dan Aswasembada Telur Tahun 2022 di Kabupaten Jayapura. Aula Kantor Bupati Jayapura. Jayapura 9 Desember 2019.

  • Kuliah Umum. Kewirausahaan Industri Perunggasan 4.0. Fakultas Peternakan Universitas Papua. Manokwari 12 Desember 2019.

  • Narasumber. Workshop Penyelesaian Kurikulum 2020 (K2020) Departemen IPTP, Fakultas Peetrnakan IPB. Bogor 6 Januari 2020.

  • Pembicara. Seminar dan Bedah Kampus Canvassing IPB. Universitas Andalas, Padang 11 Januari 2020.

  • Pembicara. Talkshow IPB Goes to Payakumbuh. Aula Peternakan Kota Payakumbuh 12 Januari 2020.

  • Pembicara. Into IPB Sriwijaya Muda untuk Indonesia. Xaverius Centrum Studiorum Palembang 19 Januari 2020.

  • Kuliah Tamu. Perkembangan Industri Perunggasan Nasional dan Internasional, M.K: Nutrisi Unggas. Bogor 20 Januari 2020.

  • Sambutan. Seminar dalam rangka Harlah PPP Ke-47: Mengamalkan KeIslaman dalam Moderasi Beragama. Padang 11 Februari 2020.

  • Kuliah Tamu. MK. Produksi Unggas Komersial: Indonesia Layer Industry. Bogor 22 Februari 2020.

  • Kuliah Tamu. MK.Pengantar Ilmu Peternakan: Industri Perunggasan Indonesia. Bogor 29 Februari 2020.

  • Pembicara. Seminar Nasional:Kontribusi Dunia Peternakan dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Mataram 18 Maret 2020(BERSAMBUNG)


Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done